abdurrahman-alghafiqi

Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai kebijakan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia meninjau ulang para Gubernurnya di berbagai daerah. Sebagian tetap pada kedudukannya, sebagian lagi diganti dengan pejabat baru.

Orang pertama yang diangkat sebagai Gubernur adalah Samh bin Malik Al-Khaulani. Ia dipercaya untuk menangani berbagai daerah dan kota yang telah dibuka. Gubernur ini lantas mengunjungi Andalusia untuk mengecek kondisi penduduknya. Dalam kesempatan itu, ia menyempatkan diri mencari apakah masih hidup ulama dari kalangan Tabi’in. Ternyata masih ada, yaitu Abdurrahman Al-Ghafiqi.

Gubernur Samh mendengar pengetahuan Al-Ghafiqi tentang Al-Qur’an, pemahamannya tentang hadits Rasulullah SAW, pengalamannya di berbagai medan pertempuran, kerinduannya untuk menjemput syahid, juga sikap zuhudnya terhadap gemerlap duniawi. Lebih dari itu, ia mendengar bahwa Al-Ghafiqi pernah bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab, bahkan sempat menimba ilmu dan akhlak darinya.

Gubernur Samh lantas meminta Abdurrahman Al-Ghafiqi untuk datang menemuinya. Ia menyambut Al-Ghafiqi dengan penuh hormat, dan memintanya untuk duduk di dekatnya. Samh menceritakan berbagai uneg-unegnya. Ghafiqi pun memberikan berbagai nasihat dan saran, tak lupa ia menganjurkan agar sang Gubernur terus menunaikan tugasnya dengan baik dan benar.

Menimbang nasihat dari Al-Ghafiqi itu, Samh menawarkan jabatan untuk menangani wilayah Andalusia, kini masuk wilayah Spanyol.

Tawaran itu dijawab oleh Al-Ghafiqi:

“Wahai Gubernur, aku hanyalah orang biasa, seperti yang lain. Aku datang ke daerah ini hanya untuk mengetahui batas-batas daerah kaum muslimin dan batas-batas fartah musuh mereka. Aku haya meniatkan diriku untuk mencari ridlo Allah yang Maha Agun, dan aku membawa pedangku ini hanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Insya’allah Gubernur akan melihatku selalu taat selama engkau menegakkan kebenaran. Aku akan selalu mengikuti perintah Gubernur, selama anda taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya, walaupun aku tidak diberi kekuasaan dan perintah.”

Tak lama berselang setelah pertemuan itu, Gubernur Samh bin Malik, bertekad untuk menaklukkan seluruh wilayah Prancis dan menyatukannya dengan wilayah Negara Islam. Saat penyerangan itu, terjadilah peristiwa mengenaskan dan tragis, Samh bin Malik gugur karena tertusuk panah. Seandainya tentara kaum muslimin tidak mendapatkan pertolongan Allah dengan seorang jenius sebagai komandan perang, yang bernama Abdurrahman Al-Ghafiqi, tentulah kaum muslimin akan menderita kekalahan yang sangat fatal.

Al-Ghafiqi tampil memimpin komando perjuangan, sehingga dapat menekan kerugian dan derita kekalahan sekecil mungkin. Dia berhasil membawa tentara kaum muslimin pulang ke Spanyol. Namun dalam hatinya ia tetap bertekad untuk mengulang serangan.

Berita besar yang dialami kaum muslimin di Prancis itu telah menggelisahkan dan mengguncangkan hati sang Khalifah di Damaskus. Pertempuran dahsyat dan berani yang diusung oleh Samh bin Malik telah membakar api keberanian pasukan kaum muslimin untuk meneruskan perjuangan itu.

Abdurrahman Al-Ghafiqi akhirnya ditunjuk sebagai pemimpin untuk wilayah Andalusia. Daerah-daerah Prancis dan sekitarnya yang berhasil dibebaskan disatukan di bawah komandonya. Sepenuhnya dia ditugaskan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Damaskus untuk mengurus wilayah Prancis dan sekitarnya secara independent. Pemberian wewenang ini menunjukkan betapa Abdurrahman Al-Ghafiqi adalah sosok yang dapat dipercaya, amanah, kuat kemauan, gigih, taqwa, bersih dan bijaksana dalam memimpin dan mengambil keputusan.

Sejak awal kepemimpinannya, dia segera bekerja mengembalikan kepercayaan diri bala tentaranya, membangkitkan semangat mereka. Yang paling penting dari itu adalah menjelmakan tujuan dan cita-cita besarnya kepada tentara kaum muslimin di Andalusia, yang telah dirintis oleh Musa bin Nusair dan Smah bin Malik Al-Khaulani.

Kaum muslimin bertekad meneruskan gerakan pembebasannya di wilayah Eropa. Mulai dari Prancil hingga menembus dinding negeri Italia dan Jerman. Rencana selanjutnya adalah membebaskan Konstantinopel, menyusul laut tengah.

Abdurrahman Al-Ghafiqi yakin sepenuhnya bahwa dalam mempersiapkan pertempuran besar itu harus dimulai dari memperbaiki dan mensucikan jiwa (Tazkiyah an-Nafs). Ia juga yakin, tidak ada satu umatpun yang dapat mewujudkan kemenagnan dan meraih cita-citanya jika benteng jiwanya sudah rapuh, terkikis dari dalam.

Berpegang pada keyakinannya itu, Al-Ghafiqi mulai berkeliling Andalusia, meninjau kekuatan daerah perdaerah. Selanjutnya ia memasang pengumuman yang berisi: Barangsiapa yang mempunyai persoalan dan merasa dizalimi oleh Gubernur, hakim, atau orang lain, ia harus melaporkannya kepada Gubernur, sebab kedudukan kaum muslimin dengan non-muslim sama dalam hal ikatan perjanjian.

Selanjutnya, dia mulai memeriksa laporan-laporan yang masuk satu persatu. Jika dia menemukan ketidakadilan, segera ia luruskan. Seperti menyelesaikan masalah tempat-tempat ibadah dan tanahnya yang bersifat rampasan atau diperoleh melalui tekanan. Dalam masalah ini, ia menyerahkan kepada pemilik aslinya sesuai dengan perjanjian, menghancurkannya atau merelakannya dengan ganti rugi. Ia juga memeriksa para pejabat satu persatu. Jika ada yang menyeleweng atau korupsi, ia tidak segan mencopotnya dan menggantinya dengan orang yang dapat dipercaya dan bertanggungjawab, baik dalam kebijakan maupun dalam mengambil keputusan.

Bersambung

Sumber Gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e7/Steuben_-_Bataille_de_Poitiers.png

LEAVE A REPLY