Jatuhnya kota Bordeaux ke tangan kaum muslimin merupakan batu loncatan bagi kejatuhan kota-kota penting lainnya, antara lain, Lyons, Bourbonnais dan Cannes. Kota terakhir ini terletak sekitar seratus mil dari Kota Paris. Seluruh kota terguncang atas jatuhnya sebagian besar wilayah Prancis bagian selatan ke tangan Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi, hanya dalam waktu beberapa bulan. Al-Ghafiqi bahkan dapat membebaskan beberapa daerah itu hanya dalam satu gebrakan.

Kini, di setiap tempat di Eropa ramai terdengar seruan untuk menghentikan bahaya yang datang dari timur itu. Seruan itu menghimbau seluruh penduduk Eropa untuk membendung bahaya dari timur itu “dengan dada jika pedang telah jatuh”,  dan “mwnutup jalan di depannya dengan anggota badan ketika alat perang telah habis.” Seluruh Eropa memenuhi seruan itu. Mereka berkumpul di bawah pimpinan Karel Martel

Pasukan Islam telah sampai di Kota Tolouse, Kota Perancis terkemuka dan paling banyak penduduknya. Kota ini memiliki bangunan yang kuat dan mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Lebih dari itu kota ini juga merupakan kota kebanggaan di seluruh daratan Eropa. Sebab di sana terdapat Gereja yang sangat megah dan luas serta menyimpan kekayaan yang sangat berharga.

Tentara Muslimin mengepung kota itu dengan ketat. Untuk menaklukkan kota itu mereka mengorbankan jiwa dan darah mereka. Tak lama kemudian kota tersebut akhirnya jatuh ke tangan mereka.

Pada sepuluh hari terakhir bulan Sya’ban tahun 140 Hijriyah, Abdurrahman Al-Ghafiqi dan bala tentaranya bergerak menuju Kota Poitiers. Di kota itulah ia bertemu dengan pasukan jalan kaki tentara Eropa yang dipimpin oleh Karel Martel. Pertempuran hebat pun meletus. Pertempuran ini dikenal dengan nama Balathu Asy-Syuhada.

Pada hari itu tentara Islam meraih kemanangan yang gemilang, sayang, punggung tentara Islam sarat dengan harta-harta rampasan yang terus menumpuk. Di tangan mereka harta itu terus tertumpuk. Abdurrahman Al-Ghafiqi memandang harta kekayaan yang sangat banyak ini dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran Dia khawatir kaum muslimin terlena dengan harta tersebut, hatinya bimbang. Dia tidak yakin bahwa hati tentaranya akan konsentrasi selama peperangan. Sebab hati mereka telah dipenuhi dengan pikiran akan harta rampasan itu. Perhatian mereka terpecah pada usaha mengalahkan musuh dan bagaimana menjaga harta rampasan yang telah berada dalam genggamannya.

Sebenarnya Al-Ghafiqi berniat memerintahkan tentaranya untuk melepaskan harta rampasan yang sangat banyak dan melelahkan itu. Tapi ia khawatir, keputusannya itu tidak mereka sukai. Ia tidak memperoleh jalan terbaik kecuali memerintahkan untuk mengumpulkan harta-hata rampasan itu dalam kemah-kemah khusus. Kemah itu didirikan di belakang kamp tentara sebelum perang berkecamuk.

Selama beberapa hari bala tentara kedua belah pihak tidak bergerak. Masing-masing saling memperhatikan dengan diam, saling mengintai dengan tegang. Kedua kubu itu berdiri tegak bagaikan deretan gunung. Satu sama lain sia menyerang. Kedua belah pihak dengan cemas memperhatikan keberanian musuhnya dan berhitung seribu kali sebelum mulai menyerang.

Setelah keadaan tegang itu berlangsung cukup lama, Abdurrahman Al-Ghafiqi membuka serangan maju dengan kudanya di tengah-tengah barisan pasukan Perancis bagikan singa kelaparan yang mengamuk. Bala tentara kaum muslimin bagaikan gunung terjal yang tumbang. Pertempuran di hari pertama berlalu, di mana kekuatan kedua belah pihak masih seimbang.

Bersambung …

1 COMMENT

LEAVE A REPLY