Ketika permohonan Abdurrahman Al-Ghafiqi datang kepada Utsman untuk menyerang daerah kekuasaan ayah Minin, ia merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di satu sisi ia harus mengamankan daerah itu, karena terikat perjanjian dengan ayah Minin, tapi di sisi lain ia harus memenuhi permohonan Al-Ghafiqi. Akhirnya, pilihan pertamalah yang diambl oleh Utsman. Ia segera menulis surat balasan kepada Al-Ghafiqi, ia beralasan bahwa ia tidak dapat memenuhi perintah tersebut karena telah terikat perjanjian dengan Raja Aquitane, dan ia tidak bisa merusak perjanjian dengannya sebelum masa perjanjian itu habis.

Surat balasan itu membuat Abdurrahman Al-Ghafiqi geram. Iapun kemudian mengutus seseorang untuk menyampaikan surat kepada Utsman. Dalam surat itu Al-Ghafiqi menekan Utsman agar melaksanakan perintahnya tanpa ragu-ragu, karena perjanjian antara Utsman dan Raja Perancis itu dibuat tanpa sepengetahuan Gubernur Muslim yang membawahi Utsman.

Namun Utsman tetap tidak mau mematuhi perintah sang Gubernur, bahkan ia mengirim utusan kepada ayah Minin untuk memberikan apa yang sedang terjadi dan memintanya agar berhati-hati dan waspada dari serangan kaum muslimin.

Al-Ghafiqi tidak tinggal diam, mata-matanya terus mengikuti gerak-gerik Utsman. Mereka datang melaporkan padanya tentang hubungan Utsman dengan pihak musuh.

Mendengar berita itu, Al-Ghafiqi segera mengirim bala tentaranya. Dengan perintah tegas, tangkap Utsman, hidup atau mati.

Pertempuran antara pasukan Utsman dengan pasukan Al-Ghafiqi pun meletus. Pasukan Utsman terus terdesak sehingga ia melarikan diri ke gunung bersama istrinya, Minin dengan beberapa orang pengikutnya. Bala tentara Al-Ghafiqi terus mengejar mereka dan mengepungnya. Utsman membela diri dan istrinya mati-matian, namun akhirnya ia tewas. Jenazah Utsman dan istrinya dibawa pada Al-Ghafiqi.

Berita sedih tentang kematian Utsman dan istrinya, telah sampai ke telinga Raja Aquitane. Ia sadar genderang perang telah ditabuh. Ia yakin singa Islam, Al-Ghafiqi akan tiba di daerahnya, kalau tidak pagi pasti sore. Dia mempersiapkan pertahanan yang kuat dan berantai agar setiap jengkal tanah kekuasaannya tidak lepas begitu saja. Dia takut digiring sebagai tawanan ke kota khalifah di Syam, sebagaimana putrinya telah digiring ke sana.

Dugaan Raja Aquitane tidak meleset, Abdurrahman Al-Ghafiqi berangkat dengan kekuatan seribu tentara dari utara Andalusia. Mereka bergerak bagaikan angin puyuh dari arah gunung Pyrenia, selatan Perancis.

Tentara Islam bergerak menuju jantung Kota Arel Orleans yang terletak di pinggir sungai Rhone. Langkah itu sudah diperhitungkan. Sebab sebelumnya warga kota Arel Orleans telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam, dengan ketentuan penduduk Arel membayar upeti kepada kaum muslimin. Tetapi setelah Samh bin Malik Al-Khaulani syahid dalam pertempuran di Thulus (Toulouse) dan kaum muslimin pun kalah, penduduk Arel pun tidak mau mematuhi perjanjian itu dan menolak membayar upeti.

Akhirnya bertemulah kedua pasukan itu, perang pun berkecamuk dahsyat. Abdurrahman Al-Ghafiqi menginstruksikan bala tentaranya yang cinta syahid itu masuk dan menyerang ke tengah-tengah musuh. Musuh akhirnya dapat dikalahkan. Ia berhasil memperoleh harta rampasan yang tak terhitung jumlahnya. Sedangkan Raja Aquitane melirikan diri dengan sisa-sisa tentaranya yang masih hidup. Ia berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bertempur kembali melawan tentara muslim.

Tentara Al-Ghafiqi terus bergerak menyeberangi Sungai Jarun. Bala tentaranya yang pemberani itu terus menyelidiki dan berputar mengitari bagian Kota Aquitane.

Kota demi kota, desa demi desa akhirnya jatuh di bawah pijakan kaki kudanya, bagaikan dedaunan yang jatuh di musim gugur. Raja Aquitane sekali lagi berusaha menghadang gerak maju tentara muslimin, sehingga peperangan dahsyat antara kedua pasukan itu kembali terjadi. Namun kemenangan kembali diraih oleh kaum muslimin, Gubernurnya pun tewas dalam pertempuran tersebut.

Bersambung …

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY