… Suatu malam di Madinah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab …

umar-bin-khattab1Malam yang tenang menyelimuti mereka yang sudah naik ke peraduan, berharap kehangatan dari dinginnya malam yang terasa merasuk tulang. Hanya ada seorang lelaki yang merasa sulit tidur karena beban tanggung jawab yang diembannya. Ia singkirkan selimut hangatnya dan bangkit berjalan menyusuri lorong-lorong Kota Madinah yang sepi.

Laki-laki itu keluar seorang diri menyatu dengan dinginnya malam. Ia sangat merasa khawatir kalau ada musafir terlantar yang tak menemukan tempat menginap, orang sakit yang terjaga, orang kelaparan yang tidak menemukan makanan pengganjal perut, atau ada urusan rakyatnya yang terabaikan. Bahkan ia merasa bertanggung jawab terhadap seekor kambing yang terpeleset di tepi Sungai Eufrat dan Allah menanyakan kepadanya dan menghisabnya.

Laki-laki itu adalah Khalifah Umar bin Khattab!

Hampir setiap hari Umar berkeliling di malam yang gelap gulita seperti itu. Keletihan menguasai dirinya, Ia bersandar pada tembok rumah kecil di ujung kota Madinah. Sejenak ia berhenti untuk sekedar beristirahat guna melanjutkan langkahnya sedikit lagi sampai di sebuah masjid. Sementara fajar hampir menyingsing.

Tuhan Umar

Sayup-sayup terdengar oleh Umar suara dua orang wanita dalam rumah kecil itu. Pembicaraan itu berlangsung antara ibu dan anak putrinya. Sang anak berdebat dengan ibunya karena menolak mencampur susu perahan dengan air. Sang ibu berkata, “Campurkan susu itu dengan air!” Namun si anak gadis itu menolak, “Sesungguhnya Amirul Mukminin melarang susu campuran, apakah ibu tidak mendengar Amirul Mukminin kemarin melarang perbuatan tersebut?”

Sang ibu berkata kepada anak gadisnya itu, “Umar tidak akan melihat kita, ia tidak akan mengetahui kita di waktu malam gelap seperti ini!”

Seketika anak gadisnya itu menjawab, “Wahai ibuku, seandainya Umar tidak melihat kita, akan tetapi Tuhan Umar tetap melihat kita. Sungguh demi Allah, saya tidak akan melakukannya. Karena Tuhan juga melarang kita melakukan perbuatan itu!”

Pernyataan gadis itu menyejukkan hati Umar yang terkagum-kagum dengan jawabannya terhadap sang ibu. Sebuah jawaban yang mencerminkan kejujuran dengan keimanan, ketakutan kepada Allah SWT dan perasaan diawasi oleh Allah SWT.

Setelah selesai mendengar pembicaraan kedua wanita itu, Umar meninggalkan tempat itu dan mempercepat langkahnya menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Kemudian ia pulang ke rumahnya. Sementara kata-kata jujur si gadis tadi terus terngiang-ngiang di telinganya:

“Seandainya Umar tidak melihat kita, tapi Tuhan Umar tetap melihat kita.”

Umar memanggil Ashim, salah satu putranya yang sudah pantas untuk menikah. Ia menyarankan untuk mengunjungi rumah gadis tersebut dan menceritakan kepada anaknya itu apa yang didengar. Umar berkata, “Wahai anakku, pergilah kesana, dan nikahilah dia, saya melihatnya anak itu akan memberikan keberkahan, Insya’allah. Semoga ia dapat melahirkan anak yang dapat memimpin Arab.”

Menjadi Menantu Umar bin Khattab

Ashim menikahi gadis miskin yang wara’ itu, namanya Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ast-Tsaqafi. Dari pernikahan itu lahirlah dua orang putri yang mereka namakan Hafshah dan Laila, dengan nama panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab, tumbuh dalam suasana ketaqwaan yang suci. Ia berkembang di masa kanak-kanaknya pada kecintaan terhadap kebaikan dan keilmuan. Ia berguru kepada ayahnya Ashim dan meriwayatkan hadits darinya.

Ayahnya termasuk orang yang lahir pada masa Rasulullah SAW, menjadi orang terbaik dan fasih. Ummu Ashim mewarisi sifat dan karakter yang baik dari ayahnya.

Ibunya, Ummu Ammarah adalah menantu Umar bin Khattab, yaitu istri Ashim binti Umar bin Khattab. Tak ada kebanggaan tentang nasab dan kehormatan keluarga yang keluar dari mulutnya, kecuali kata-kata yang memberi nasihat kepada ibunya, tidak ada nasab yang baik kecuali agama dan keislamannya.

“Ayahku adalah Islam, tidak ada ayah selainnya. Saat orang-orang berbangga dengan Qays dan Tamim.”

Ummu Ashim mewarisi sifat dan karakter yang mulia dari kedua orang tua dan kakeknya Umar bin Khattab, sehingga menjadikannya berada di barisan terdepan wanita-wanita Tabi’in pilihan.

Wanita mulia ini lahir dari seorang wanita, yang bernama Ummu Ammarah, yang diyakini oleh Umar bin Khattab sebagai seorang wanita sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, “Carilah wanita yang terbaik untuk persemaian banih kalian dan nikahilah wanita-wanita yang kufu.”

Dari sinilah Umar bin Khattab berkeyakinan bahwa wanita ini akan melahirkan seorang anak yang mempunyai sifat dan karakter terpuji, yang secara genetik menghasilkan keturunan yang memiliki akhlak terpuji. Seorang anak akan mengikuti sifat genetik ibunya dan lingkungan alamiah ibunya.

Ini pula yang membuat Abdul Aziz bin Marwan memilih Ummu Ashim sebagai pendamping hidupnya.

Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang pemimpin dari keluarga Marwan. Ia menjadi calon pengganti kekuasaan saudaranya Abdul Malik bin Marwan. Pada saat ia ingin menikah, ia meminta orang terdekatnya untuk memilihkan harta terbaiknya untuk dijadikan sebagai maskawin pernikahannya. “Kumpulkan sebanyak 400 dinar dari harta terbaikku, saya ingin menikah dengan keluarga yang memiliki keshalihan.”

Abdul Aziz tidak menggunakan kriteria seperti yang biasa dipakai oleh para pejabat dan pembesar, seperti kecantikan dan status sosial. Tapi sifat genetik yang baik dari tempat persemaian yang baik pula. Akhirnya ia memilih pasangan hidupnya dari keluarga Umar bin Khattab.

Ia memilih Laila Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab.

Sudah menjadi kebiasaan orang yang menjadi menantu keluarga Khattab tidak melakukan pendekatan atas dasar kedudukan mereka. Keluarga Khattab tidak mencari nama besar, tapi keluarga Umat mengarahkan pada ilmu dan sifat zuhud. Orang yang berbesanan dengan keluarga Khattab hanya mengharapkan anak-anaknya dapat hidup seperti kehidupan mereka.

Kelak dari pernikahan antara Abdul Aziz bin Marwan dan Ummu Ashim inilah lahir seorang anak yang bernama Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang terkenal zuhud, bertaqwa dan wara’.

Lanjutkan membaca kisah Umar Bin Abdul Aziz di sini, bagian kedua

Gambar: http://totalitasberkontribusi.files.wordpress.com/2011/11/umar-bin-khattab1.png?w=400&h=451

1 COMMENT

LEAVE A REPLY