umar-bin-abdul-azizUmar bin Abdul Aziz dilahirkan di Madinah, yang saat itu menjadi mercusuar bagi ilmu dan keshalihan, tempat bermukimnya para ulama, para ahli fikih, orang-orang yang rajin beribadah dan shalih. Dengan bimbingan ibunya, ia tekun menghafal Al-Qur’an, hingga dapat menghapalnya dalam waktu yang relatif singkat dan dalam usia yang masih sangat muda.

Pengaruh Al-Qur’an dalam dirinya yang masih kecil ini, dapat memenuhi relung hatinya yang jernih dengan rasa takut kepada Allah SWT, berpegang teguh pada ketaqwaan, sehingga ia dapat menapaki tangga kemuliaan. Kedua matanya senantiasa meneteskan air mata karena rasa takutnya kepada Allah, sehingga ia sering menangis karenanya.

Sang ibu melihat sifat wara’ anaknya yang masih kecil ini, larut dalam irama ketaqwaan kepada Allah SWT, sehingga ia juga sering ikut menangis. “Apa yang membuatmu menangis, wahai anakku?”

Umar kecil menjawab, “Wahai ibu, tidak ada apa-apa, hanya mengingat mati, hanya mengingat mati!”

Ummu Ashim melihat ketaqwaan sang anak ini lebih awal dari yang diperkirakan oleh banyak orang. Bahkan sang guru Umar bin Abdul Aziz, Shalih bin Kisan mengomentari, “Demi Allah, saya belum menemukan seseorang dengan potensi jiwa lebih besar sebagaimana yang dimiliki anak kecil ini.”

Ibu dari anak kecil yang cerdas ini senantiasa memberikan perhatian yang baik. Suatu saat Umar kecil ini pernah terlepas dari pengawasannya, dan si anak kecil ini masuk ke kandang kuda. Si ibu tidak menyadiri, maka seekor kuda menyerang si anak kecil itu, sehingga menyebabkan luka di keningnya.

Ummu Ashim dengan cepat meraih anaknya dan memeluknya, sambil menyeka darah wajahnya. Melihat kejadian itu, sang ayah pun mendekati anaknya yang terluka tersebut. Ummu Ashim merajuk kepada sang suami, “Engkau menelantarkan anakku dan tidak menyediakan perawat dan pelayan untuk menjaganya.”

Sejenak kemudian, sang ayah tersenyum, sambil berkata kepada sang ibu, “Diamlah wahai Ummu Ashim! Berbahagialah seandainya anakmu ini menjadi tanda satu dari Bani Umayah yang mempunyai bekaas luka di keningnya.”

Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Apabila engkau orang yang mempunyai luka di kening di antara keluarga Bani Umayyah, semestinya engkau orang berbahagia.”

Konon, riwayat ini bersumber dari mimpi Umar bin Khattab di suatu malam yang membuatnya terbangun dan mengatakan: “Siapa gerangan orang yang terluka keningnya dari Bani Umayyah, dari keturunan Umar dengan nama Umar pula mengarungi kehidupan seperti Umar dan memenuhi bumi dengan keadilannya?”

Saat Umar wafat, mimpinya ini senantiasa menjadi ingatan dan pembicaraan bagi keluarga dan kerabatnya yang membuat mereka meneliti tanda-tanda yang dimaksud di wajah anak-anak mereka. Sampai terjadinya peristiwa yang terjadi kepada Umar bin Abdul Aziz.

Ternyata mimpi Umar itu tidak salah

Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang mempunyai luka di keningnya itu telah mengubah kesengsaraan orang-orang tertindas menjadi senyuman, berbahagia dalam naungan keadilan dan sikap baiknya. Semua ini berpulang kepada sang ibu, Ummu Ashim.

Ummu Ashim bertolak dari Madinah menuju Mesir menyusul suaminya Abdul Aziz bin Marwan yang saat itu menjadi gubernur di sana. Kemudian ia menetap dan tinggal di sana.

Di Mesir, Ummu Ashim terkenal sebagai seorang wanita yang sangat dermawan dan murah hati, sangat mengasihi dan menyayangi golongan lemah.

Suatu saat, Ummu Ashim dicegat oleh orang miskin di tengah perjalanan dan meminta sesuatu darinya. Dan ini sering dilakukan olehnya sampai ia meninggal dunia.

Kemudian Abdul Aziz bin Marwan untuk kedua kalinya menjadi menantu keluarga Umar bin Khattab dengan menikahi Hafshah, adik perempuan Ummu Ashim.

Catatan Redaksi: Terimakasih masih menjadi pembaca setia SUFIZ.COM. Khusus untuk kisah lebih lengkap Umar bin Abdul Aziz ini akan segera diterbitkan dalam waktu dekat. Tunggu saja, ikuti newsletter kami agar bisa mendapatkan update kisah-kisah teladan lain dari SUFIZ.COM, terimakasih

LEAVE A REPLY