shalat-istisqa-hujan

Satu kisah lain yang amat masyhur, yang dikaitkan dengan kewaliannya adalah saat beliau bertemu dengan sekumpulan orang yang tengah mengadakan upacara pengorbanan. Dalam upacara itu sang Dukun yang memimpin upacara telah siap menghujamkan sebilah pisau ke dada gadis cantik yang dijadikan persembahan bagi Dewa Hujan. Kekeringan hebat yang menyengsarakan penduduk dusun itu telah berjalan terlalu lama. Gadis itu adalah gadis ketiga yang dipersembahkan ke altar eksekusi setelah yang dua lainnya belum juga membuat hujan turun dari langit.

Dari kejauhan Syekh Malik berteriak lantang mencegah praktik kesyirikan itu, tetapi terlambat, ujung pisau telah sampai ke dada si gadis malang, namun keajaiban terjadi, pisau itu tak mampu menembus dadanya. Si dukun merasa ada kekuatan gaib yang menghadang tenaganya menakan pisau ke dada. Sampai kemudian si dukun terlempar jauh.

Tahulah si dukun setelah Syekh Malik mendekat, dan kejadian itu adalah ulah laki-laki asing yang berdiri didepannya. Dengan rasa marah menggumpal, si dukun menanyakan kenapa Syekh Malik menghalangi pelaksanaan upacara itu.

“Sudah berapa gadis yang dikorbankan?” tanya Syekh Malik. “Dua,” jawab si dukun itu. “Apakah setelah dua nyawa itu melayang, hujan turun?” tanya Syekh Malik lagi.

Si dukun terdiam. Memang setelah dua persembahan lalu, Dewa Hujan belum juga bermurah hati menurunkan airnya. Tetapi ia meyakini setelah yang ketiga ini, Dewa Hujan akan mengabulkan permohonannya, yang juga merupakan permohonan semua penduduk dusun itu.

Sesaat setelah menyadari kondisi yang dialami penduduk, Syekh Malik berujar, “Bila hujan dapat turun, masihkah kalian akan mengorbankan gadis ini?”.

“Yang kami inginkan adalah hujan, tuan. Jika hujan turun, kami akan bebaskan gadis itu,” ujar seorang penduduk.

Syekh Malik lalu menjalankan shalat sunnah minta hujan, Shalat Istisqa’. Keikhlasan dan ketaqwaannya yang tinggi membuat shalat itu menemui makbulnya. Hujan turun dengan deras, mengakhiri kekeringan dari tanah dusun tersebut.

Orang-orang yang menyaksikan itu menjadi takjub dan tak kepalang gembiranya. Mereka serentak bersujud seperti menyadari bahwa Syekh Malik adalah seorang dewa. Tetapi Syekh Malik segera mencegah dan menyuruh mereka bangkit. Dengan lembut ia menjelaskan semua adalah berkat keagungan Allah, Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang tidak mereka kenal.

Dengan sebab takjub dan mendapat pencerahan dari sebuah tanda kebesaran Allah yang baru lewat tadi, orang-orang itu menyatakan ketertarikannya pada Islam. Mereka ingin memeluk Islam dan belajar mengenai ajarannya.

Bersambung

Sumber Gambar: http://hermansy.files.wordpress.com/2009/02/berisik-pas-sholat.jpg

3 COMMENTS

  1. mengenai artikel yang satu ini saya teringat akan perintah qurban yang diwahyukan ke pada nabi ibrahim namunpada hakikatnya allah swt meprotes manusia sebab dari perbuatan manusia itu sendiri, rasanya terlalu mulia manusia dijadikan qurban.

  2. maaf saya mau tanya di tempt tinggal saya ad tempat pemakaman dan kholwah di situ kl tdk salah di tulis makam syeh maulana malik ibrahim, banyak para ulama dari skitar bahkan dari jawa sering berziarah ke tempat itu, mnurut para ulama beliau adalah ulama besar,tp menurut pribumi beliau asli orang pribumi..bahkan saya dan guru saya sering berziarah ke sana. pertanyaan saya ap yg di maksud artikel ini makam yg di tmpat tinggal saya?mohon di jelaskan.saya tinggal di Lampung, tepatnya lampung tengah kecamatan bandar surabaya 34158.

LEAVE A REPLY