Setelah Sunan Ampel wafat, para santri memutuskan untuk mengakhiri kekuasaan Majapahit, karena Raja Brawijaya V mulai meminta bantuan Portugis untuk menekan Syiar Islam.

Imam keempat masjid Demak, yang bertugas kira-kira 1521-1524 dan dilantik oleh Adipati Sabrang Lor (Adipati Yunus) dari Jepara, mati syahid melawan Majapahit. Ia dijuluki penghulu Rahmatullah di Undung atau Ngudung – mayoritas orang jawa menyebutnya Sunan Ngudung.

Dalam pertempuran habis-habisan itu, yang boleh jadi telah berakhir (1527 M) dengan direbutnya ibukota kerajaan tua tersebut, ia berjuang bersama anaknya yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Mereka memimpin pasukan “orang alim.”

Bagaimana cerita asal mula penyerangan pamungkas terhadap Majapahit itu? Setelah Sunan Ampel di Surabaya meninggal dunia, para santri memutuskan untuk mengakhiri kekuasaan tertinggi Raja Brawijaya V, sekalipun Sunan Kalijaga menentangnya. Menurut Raden Mas Sahid, nama kecil waliyullah tersebut, Raja Majapahit toh tidak pernah menghalangi dakwah Islam. Adipati Demak Bintara, Raden Patah, juga masih Seba, menghadap Raja, untuk membayar Upeti.

Akan tetapi, berbondong-bondong para santri, yang dipimpin Pangeran Ngudung dan pemimpin agama yang lain, tetap bergerak menyerang. Adik Raden Patah, Adipati Terung, Raden Kusen, menghindar dari tugas yang dibebankan Raja Majapahit untuk memerangi kaum pemberontak. Patih Gajahmada lah yang pertama-tama memukul mundur barisan orang alim itu di Tuban.

Dalam penyerangan kedua, yang hanya dipimpin oleh Pangeran Ngudung, sesuai denga keputusan para ulama, hanya anggota keluarga yang lebih muda ikut bertempur, tetap di bawah komando sang Patih, barisan Majapahit, yang di ikuti putra Mahkota Aria gugur, Pangeran Andayaningrat dari Pengging, Adipati Klungkung dari Bali, serta Adipati Pecat Tandha (kepala pasar atau pelabuhan  yang berhak menarik pajak) Terung, tampaknya begitu kuat.

Pertempuran menentukan terjadi di Wirasaba (Kini Majaagung), versi lain menyatakan terjadi di tepi sungai Sedayu. Andayaningrat gugur. Pangeran Ngudung terbunuh oleh tusukan keris Adipati Terung. Jenazahnya di bawa pulang ke Demak oleh pengikutnya untuk di kebumikan di sana.

Kisah kematian penghulu Rahmatullah ini termuat panjang lebar dalam kebanyakan naskah cerita  Jawa Tengah dalam berbagai versi. Yang ringkas ialah versi J.L.A. Brandes dan Serat Kandha edisi bahasa Belanda. Demikian juga dalam babat banten dan babat Tjerbon.

Menurut Sadjarah Banten, kejadian di Jawa Timur itu bertepatan dengan perkawinan putri Demak dengan keturunan pemimpin agama yang baru muncul di Cirebon. Penulisnya mengira, itu pernikahan antara putra Raja pertama Cirebon, Hasanuddin, Sultan pertama Banten, dan putri Sultan Trenggana dari Demak. Tetapi menurut Hoesin Djajadiningrat, perkawinan itu baru terjadi pada 1552 berbilang tahun setelah jatuhnya Majapahit pada 1527 itu.

Majapahit yang Mana?

Ada keanehan dalam fakta kejatuhan Majapahit itu. Benarkah peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1527? Secara umum diyakini Candra Senkala (kalimat ibarat tahun) untuk kejatuhan Majapahit ialah Sirna Ilang Kertaning Bumi atau tahun 1400 Syaka atau 1478 M, yang dengan jelas menggambarkan Raja Kertabumi alias Brawijaya V (1468-1478).

Dan lagi Raden Patah itu anak Brawijaya V yang dianggaap sebagai Raja terakhir Majapahit. Bagaimana mungkin ia menyerang ayahnya sendiri? Lebih dari itu, Panembahan Jimbun minta izin resmi kepada Raja untuk menyiarkan agama Islam, dan Raja Kertabumi memperbolehkannya. Jadi fakta yang sebenarnya ialah, Brawijaya itu Raja terakhir kerajaan Majapahit, keturunan Raden Wijaya gelar Kertarajasa Jayawardana (1294-1309), setelah Prabu Kertawijaya Brawijaya I (1447-1451), Prabu Rajaswardana Brawijaya II (1451-1453), Prabu Hyang Purwawisesa Brawijaya III (1456-1466), dan Prabu Pandansalas Brawijaya IV (1466-1468), sedangkan pada 1453-1456 terjadi kekosongan Tahta.

Penyerangan yang menjatuhkan Brawijaya V dilakukan oleh Prabu Girindrawardana Brawijaya VI (1478-1498) dari Keling, yang tak lain, adalah keturunan Prabu Jayakatwang, musuh Raden Wijaya. Girindrawardana dibantu oleh Patih Empu Tahan, ayah Raden Udara, yang kemudian merebut kekuasaan dan kemudian bertahta  sebagai Brawijaya VII (1498-1518). Keduanya masing-masing bertahta di Daha (keling) dan Kediri.

Dengan demikian, yang diserang Raden Patah melalui panglima perang Sunan Ngudung itu bukan Brawijaya V, melainkan Prabu Udara Brawijaya VII. Penyerangan tersebut berlangsung lima tahun dan berakhir pada tahun 1518. Sifat penyerbuan itupun bukan agresif, melainkan defensif, karena Prabu Udara mengirmkan utusan kepada Alfonso d’Albuquerque, Gubernur Jendral Portugis di Malaka, sebagai persiapan perang melawan Islam. Saat itu kesultanan Demak Bintara (1512) tampaknya mulai pesat berkembang.

Entah berkaitan entah tidak dengan penyerangan tersebut, Raden Patah wafat pada tahun (1518) dan tahta Demak di isi oleh putranya yang sulung, Adipati Yunus alias Pangeran Sabrang Lor (1518-1521).

Pertanyaannya, bagaimana mungkin Sunan Ngudung yang wafat pada penyerangan kedua dalam perang pada tahun 1513-1518 bertugas pada 1521-1524 setelah dilantik pada tahun 1521 oleh Pangeran Sabrang Lor? Dengan kata lain, bila angka tahunnya benar, yang dilantiik itu bukan Sunan Ngudung, melainkan Sunan Kudus.

Ketika menulis tentang Kudus, yang nama aslinya Ja’far Shadiq, MB. Rahimsyah A.R. dengan mengutip salah satu versi, menyatakan bahwa Sunan Kudus itu anak Raden Usman Haji atau Sunan Ngudung yang adalah keturuna Nabi Muhammad SAW.

Ia mengajukan silsilah berikut: Nabi Muhammad – Siti Fatimah yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib – Sayyidina Husain – Sayyidina Zainal Abidin – Zainul Alim – Zain Al-Kubra – Zain Al-Husain – Maulana Jumadil kubra – Ibrahim Samarqandi – Raden Usman Haji, yang juga di kenal dengan sebutan Sunan Ngudung.

Bagaimana mungkin silsilahnya sependek itu, bandingkan dengan silsilah dari Nabi Muhammad SAW ke Syarif Hidayatullah, berdasarkan hasil olahan Pangeran Wangsakerta, sejarawan Cirebon sbad ke 17, yang cukup panjang (melalui India, Kamboja dan Mesir).

Kenapa silsilah Sunan Gunung Jati yang dipakai sebagai perbandingan?, alasannya adalah, mantan anggota Konstituante KH. Dachlan Abd. Qohar, dalam ijtihadnya, diantaranya dengan merujuk pada kitab Kanzul Ulum, karya Muslim pengembara dari Maghribi, Ibnu Batutah (1304-1377), menulis bahwa Sunan Kudus datang ke Tanah Jawa pada 1436 M, bersama saudaranya, Syarif Hidayatullah, untuk menggantikan dua wali sebelumnya yang wafat, Malik Isra’il dan Ali Akbar. Ia datang bersama Mushaf Al-Qur’an dan pemiliknya, Syarifah Alawiyah yang tak lain adalah bibinya. Ia beristri Siti Syari’ah binti Sunan Ampel.

Tentang Sunan Ngudung Pangeran Wangsakerta hanya menulis, “…Raden Umar Sahid Sunan Muria memperistri Dewi Sujinah, putri Sunan Undung…adik Sunan Kudus.”

Menurut Rahimsyah, Raden Usman Haji itu berasal dari Jipang Panolan. Akan tetapi ia menyebut letak Jipang Panolan itu di sebelah utara kota Blora. Padahal pada kenyataannya Jipang Panolan itu terletak di di barat Kota Cepu atau di selatan (sedikit ke timur) Blora.

Tapi menurut sejarawan Graaf dan Piqeaud benar bahwa Sunan Ngudung ialah julukan berdasarkan tempat tinggalnya – karena Ngudung atau Undung itu diperkirakan berada di utara Kota Kudus. Logika yang mungkin ialah Raden Usman Haji pindah dari Jipang Panolan ke Undung atau Ngudung karena dilantik jadi imam masjid Demak.

Sementara menurut Prof Hasanu Simon menyatakan, Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji juga bernama Syekh Sabil dan berasal dari Malaka. Dalam Walisongo, Sunan Ngudung bertugas sebagai Penglima Perang. Tugas ini diteruskan oleh putranya, Sunan Kudus.

 Wallahu ‘Alam Bish-Shawab!

 

8 COMMENTS

  1. ternyata kebanyakan walisanga adalah keturunan dari Nabi Muhammad SAW, kecuali Sunan Kalijaga dan anaknya beliau…

  2. Dr.Kuntowijoyo,penah menyatakan. Untuk mendapat sumber-sumber yang benar bagi sesuatu fakta sejarah, tidak hanya melihat dari sumber intelektual Barat semata-semata. Kerana kebiasaanya “sejarah kita”yang dikaji dari kaca mata Kebaratan mempunyai jarum-jarum propaganda yang didalamnya yang dianggap benar. Jika di indonesia banyak pengkaji-pengkaji daripada dunia Belanda dan di Malaysia banyak daripada koloni British.

  3. Dalam serat Darmogandul ataupun tulisan dari klenteng Sam Po Kong semarang. Penyerangan ke Majapahit diskenario/ diputuskan oleh wali Giri. Dengan mempengaruhi rd.Fatah muridnya,juga anak Brawijaya V dari selir China. Dengan tipuan bahwa rd.fatah sebagai adipati demak dan anak raja akan sowan ke Istana, bapaknya. Tipuan sukses.
    Setelah Majapahit dikuasai, kekuasaan diserahkan kepada Ngo Lay (sebagai raja boneka demak). Rakyat akhirnya berontak terhadap raja boneka, orang China.
    Hal tsb.digunakan oleh Grindrawardana utk menguasai Majapahit dari raja boneka.
    Demak saat itu masih sibuk dengan pemberontakan2 juga membantu malayu melawan portugis.
    Dan akhirnya Demak kembali menyerang Grindrawardana.

    Note: penyerangan Demak terhadap Brawijaya V, dibantu oleh saudara2nya rd.Fatah yang china.

  4. MashaaALLOH.. Cerita yang cukup membuat kita semua harus belajar tentang sejarah bangsa, semoga bermanfaat bagi semua orang indonesia.. Aamiin 🙂

  5. Assalamualaikum

    Mohon direvisi, masa hidup gajah mada bukanlah di akhir masa majapahit, tetapi justru di puncak kejayaannya, sekitar tahun 1300 an, pada masa prabu hayam wuruk,

LEAVE A REPLY