Seperti wali lainnya, Sunan Drajat menggunakan kesenian rakyat sebagai pintu masuk bagi misi dakwahnya. Selain terkenal sebagai wali yang bersahaja karena kelembutan hatinya, Sunan Drajat dikenang sebagai wali yang amat dermawan. Konon, ia pernah diselamatkan dari kapal laut oleh seekor ikan talang.

Anak kecil itu berwajah tampan, garis keluguan menjalari mukanya. Oleh sang Ibu ia amat disayang, maklumlah, Raden Qosim adalah bungsu yang pemalu, limpahan kasih seperti berlebihan diterimanya. Apalagi sang bungsu itu memang santun dan lembut, siapapun akan merasa terpanggil untuk menyayanginya.

Raden Qasim

Di pesantren yang dipimpin ayahnya, Sunan Ampel, Raden Qosim terlihat jarang bermain-main, waktunya lebih banyak ia habiskan dirumah. Diapun tak ambil peran dalam pengelolaan pesantren di Ampeldenta itu sebagaimana yang dilakukan olen Sunan Bonang, kakaknya. Sekalipun begitu, seperti anak orang alim lainnya, Raden Qosim memiliki tanggung jawab belajar, ia mengaji, mengeja ayat Allah dan hadis Rasulullah SAW, ia juga mendalami ilmu Fiqhi dan Tauhid. Raden Qosim pun tumbuh menjadi anak muda yang berilmu.

Hatinya yang lembut semakin terasah ketika ia sering mengikuti ayahnya berdakwah. Di daerah yang di laluinya ia melihat sendiri bagaimana kemiskinan begitu mencekik, wajah-wajah pucat kurang darah, karena tak tercukupinya zat makanan secara layak, ia temui hampir di semua tempat. Tak hanya orang tua renta, anak-anak remaja yang seharusnya energik juga harus menanggung akibat kemiskinan itu. Kemiskinan terebut menyertakan juga penderitaan, penyakit, kekurangan sandang dan kebodohan.

Pada suatu hari Raden Qosim menyaksikan, Sunan Bonang bersama sahabatnya, Raden Paku, berkemas berangkat ke negeri seberang. Tahulah ia, sang kakak bersama temannya, yang dikemudian hari dikenal sebagai Sunan Giri, hendak menuntut ilmu ke negeri sebrang, setelah melepas mereka berangkat, dalam diam dan keluguannya, Raden Qosim ternyata punya hasrat yang sama, inging berkelana mencari tambahan ilmu, tetapi sang Ibu tak mengizinkan putranya berangkat. Nyi Ageng Manila merasa tak kuasa menahan kerinduan dan kesepian jika anaknya itu juga berangkat.

Raden Qosim memang anak yang paling dekat dengan Ibunya, apalagi menurut Nyi Ageng Manila, Raden Qosim cukup Dewasa untuk menempuh perjalanan jauh. Ayahnya juga menganjurkan Raden Qosim untuk tinggal. “Ilmu juga ada disini, Qosim tak perlu kau pergi jauh-jauh,” ujar Sunan Ampel mencegah hasrat anaknya.

Berlayar ke Pesisir Barat

Saat usia Raden Qosim beranjak dewasa, tugas dakwah tetap harus ia emban, sekalipun hati sang Ibu berat melepas dirinya, tugas suci menegakkan kalimat Allah harus diutamakan. “Berlayarlah ke pesisir barat Gresik, disana ada dearah yang menunggu kerja dakwahmu, titah Sunan Ampel kepada putranya yang sekaligus muridnya itu. Raden Qosim mematuhi, ia pun berkemas untuk berangkat.

Dengan menumpang biduk nelayan Raden Qosim berlayar, ia berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Tekadnya sudah bulat, tugas suci ini harus ia laksanakan dengan amanah. Segala rintangan yang akan menghadang akan di hadapinya dengan hati tabah.

Angin yang baik sepertinya akan membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa cuaca akan memburuk, tetapi laut memang menyimpan seribu misteri, dan manusia hanya bisa menduga-duga. Saat berada di tengah-tengah rimba lautan, tiba-tiba turun badai yang amat dahsyat, biduk itu terombang-ambing, dipermainkan ombak tanpa ada daya sedikitpun, terang saja biduk itu menjadi seperti korek api dalam aliran sungai, diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.

Akhirnya sebuah ombak besar membuat perahu naas itu hancur berkeping-keping, sang nelayan terlempar tak diketahui nasibnya. Sementara Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Beberapa saat lamanya di tengah gemuruh badai yang mengamuk, Raden Qosim bertahan dengan dayungnya, sampai kemudian pertolongan yang tak di duga-duga datang menghampiri.

Diselamatkan Ikan Talang

Seekor ikan Talang tiba-tiba muncul dan berenang mendekati Raden Qosim, putra Sunan Ampel yang mulai di dera kepanikan ini segera merasa bahwa ikan itulah yang dikirim Allah swt untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk di naiki Raden Qosim. Pria berhati lembut itu dengan senang hati menaikinya.

Konon, tak hanya ikan Talang yang menolong Raden Qosim, seekor ikan Cucut juga mempersilahkan dirinya dinaiki adik Sunan Bonang ini. Dengan cepat kedua ikan itu melaju membawa Raden Qosim lepas dari badai. Tak berapa lama Raden Qosim dapat selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Inilah kisah karomah paling masyhur Raden Qosim yang mengingatkan kita pada kisah Nabi Yunus yang juga ditimpa badai, ikan Paus kemudian menelan Nabi Yunus, tetapi ia tetap selamat hingga di bawa ke tepi pantai.

Kisah penyelamatan ikan ini tercatat sejarah terjadi pada tahun 1485 M. kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua orang tokoh penting di Jelak, yaitu mbah Mayang Madu dan mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk islam dan mempersiapkan dirinya membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya. Sebuah surau kemudian didirikan oleh Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya, surau yang di dirikan pria yang berhati lembut itu seperti memanggil orang-orang untuk mengenal Allah swt dan agamanya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu pun beranjak beralih fungsi menjadi pesantren.

Sunan Drajat

Akhlaknya yang mulia serta kedermawanannya menjadikan Raden Qosim mendapat simpati luas. Dakwah islam yang dilakukannya memberi angin segar bagi pertumbuhan wilayah itu, baik secara sosial maupun ekonomi. Jelak bertambah ramai dan kemudian berubah nama menjadi Banjar Anyar. Selang beberapa waktu, Raden Qosim pindah ke Desa Drajat yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Desa Jelak. Disini Raden Qosim melebarkan penyebaran islam dan mulai masyhur dengan sebutan Sunan Drajat.

Desa Drajat sebenarnya agak terpencil, konon sebelum memilih desa yang berupa dataran tinggi itu Raden Qosim mendapat petunjuk melalu mimpi. Dalam mimpinya Sunan Drajar bertemu dengan Sunan Giri yang menganjurkan dirinya membuka sebuah komunitas islam baru di sisi selatan perbukitan di desa Drajat. Daerah yang ditunjuk Sunan Giri ternyata adalah hutan angker, tak ada satupun orang yang berani menginjakkan kakinya disana.

Pembukaan hutan itupun diwarnai dengan hal-hal gaib. Konon, penghuni hutan marah dan mendatangkan bala berupa penyakit pada penduduk. Tetapi Sunan Drajat yang ikhlas dapat melewati ujian itu dengan baik. Hutan angker itu diubahnya menjadi pusat penyebaran islam di tendai dengan berdirinya sebuah masjid. Permukiman baru pun di bangun.

Karomah Sunan Drajat sebagai wali yang dikaruniai kesaktian dan ilmu penyembuhan memang terkenal sampai ke seantero negeri. Kerap ia dipenggil untuk menyembuhkan orang yang sedang tertimpa sakit. Kelembutan tangannya serta pengetahuannya terhadap ramuan-ramuan dari akar dan daun-daunan membuat hampir semua penyakit dapat disembuhkan. Tak lupa ia selalu berpesan kepada si pasien agar selalu berdoa dan tak meninggalkan shalat.

Sunan Drajat juga mengambil hati rakyat melalui kesenian. Beberapa tembang dan Suluk yang berisi hikmah yang tinggi ia ciptakan. Kata-katanya yang sarat nilai masih sering diucapkan orang sampai sekarang.

“Paring teken marang kang kalunyon lan wuta, paring pangan marang kang kaliren, paring sandhang marang kang kawudan, paring payung marang kang kudanan,” pesan Sunan Drajat dengan lembut. Ajaran yang menjadikan dirinya sering disebut sebagai wali yang amat berjiwa sosial ini berarti: “Memberi tongkat kepada orang yang tergelincir dan buta, memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, dan memberi payung kepada orang yang kehujanan.”

Pesan yang sederhana tapi sangat mengena.

Ajaran ini tak hanya ia ucapkan, perbuatan sehari-hari Sunan Drajat pun menunjukkan itu, hatinya selalu ringan membantu, karena ia memang tak pernah sampai hati membiarkan orang menderita.

Pada tahun 1522, Sunan Drajat meninggal dunia, di komplek makam masih tersimpan dayung yang pernah ia gunakan untuk mengapung di lautan dulu. Juga seperangkat gamelan seperti terus mendendangkan kelembutan hatinya.

LEAVE A REPLY