Dalam catatan sejarah, Ia dikenal dengan Ja’far Ash-Shadiq. Bagi kalangan Syi’ah, tokoh ini dianggap penting. Ia dianggap sebagai Imam Keenam setelah Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husen bin Ali, Ali Zainal Abidin, dan Muhammad Al-Baqir. Padahal dalam beberapa ungkapannya, Ja’far justru menolak pendapat Syi’ah itu.

Ja’far bin Muhammad adalah keturunan orang mulia. Dari ayahnya ia masih keturunan Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari garis keturunan Ibunya ia masih keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Adz-Dzahabi, dalam kitabnya, Siyar A’lamin Nubala’, mencatat sanad tokoh ini sebagai berikut: Dia adalah Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdil Manaf bin bin Syaibah bin Histam bin Qushai. Ibunya adalah Qarwah binti Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar At-Taimy. Neneknya dari pihak ibu adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar. Ja’far pernah mengatakan, “Aku pernah dilahirkan dari Abu Bakar dua kali.” Karena itulah ia sangat marah ketika kalangan Syi’ah Rafidhah mencaci Abu Bakar.

“Demi Allah, aku berharap Allah memberikan manfaat atas kedekatanku dengan Abu Bakar dan Umar. Salim bin Abi Hafshah pernah bertanya kepada Ja’far tentang Abu Bakar dan Umar. Dia menjawab, “Wahai Salim, mereka pernah memerintah kaum muslim, dan aku terbebas dari permusuhan pada keduanya. Keduanya adalah imamku yang mendapat petunjuk.” Selanjutnya Ja’far mengatakan, “Wahai Salaim, apakah seorang cucu akan mencaci maki kakeknya? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak mungkin bisa mendapatkan syafaat Muhammad saw pada hari kiamat jika aku tidak berwali kepada keduanya dan melepaskan permusuhan terhadap keduanya.”

Ja’far pernah mengatakan kepada orang-orang yang mau pulang dari Madinah ke negerinya mesing-masing, “Kalian, insya’allah termasuk orang-orang yang shalih dari penduduk negeri kalian. Maka sampaikanlah kepada mereka, bahwa siapa saja yang menganggapku sebagai Imam yang maksum (terjaga dari dosa) yang wajib ditaati, maka saya terbebas dari anggapan itu. Siapa yang menganggapku terbebas dari permusuhan terhadap Abu Bakar dan Umar, maka itu memang benar.”

Ia dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Ia sempat bertemu dengan beberapa sahabat Nabi, diantaranya Anas bin Malik, Sahl bin Sa’ad. Ia meriwayatkan beberapa hadis dari beberapa orang sahabat, diantaranya adalah Abdullah bin Abi Rafi’, Urwah bin Zubair, dan Atho’ bin Abi Rabah, dan beberapa tokoh Tabi’in lainnya. Riwayatnya yang paling banyak dari jalur ayahnya yang merupakan ulama terkemukan Madinah.

Khalifah Al-Manshur pernah meminta Abu Hanifah untuk menguji Ja’far bin Muhammad. “Wahai Abu HYanifah, sesungguhnya orang-orang telah memfitnah Ja’far bin Muhammad, siapkanlah persoalan-persoalan sulit untuk mengujinya.”

Abu Hanifah lalu menyiapkan 40 masalah, dan datang di tempat khalifah Al-Manshur. Ja’far bin Muhammad ternyata sudah hadir di sana, duduk disamping kanan sang Khalifah. Abu Hanifah memberi salam, lalu masuk ke dalam ruangan yang telah disediakan. Al-Manshur bertanya kepada Ja’far, “Wahai Abu Abdillah, apakah engkau mengenal orang ini?” Ya, dia Abu Hanifah,” jawab Ja’far.

“Wahai Abu Hanifah, kemarikan permasalahan yang engkau siapkan, kita akan ajukan pada Abu Abdillah ini.”

Abu Hanifah segera mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Dengan jelas Ja’far menjawab semua permasalahan yang ditanyakan itu hingga 40 masalah itu selesai. Akhirnya Abu Hanifah mengatakan, “Bukankah telah aku katakana, orang yang paling pandai adalah mereka yang mengetahui perbedaan manusia.”

Walaupun Ja’far berilmu tinggi, dia tetap tawadhu’. Ia tidak menganggap semua pendapatnya benar. Dia pernah berkata, “Demi Allah, kami tidak mengetahui semua yang mereka tanyakan, bias jadi orang lain lebih tahu dari kami.”

Selain tawadhu’ ia terkenal sebagai orang yang sangat dermawan. Kakeknya adalah Ali Zainal Abidin yang terkenal sering membagi-bagikan makanan kepada penduduk Madinah tanpa sepengetahuan mereka. Baru ketika Ali Zainal Abidin meninggal, mereka tahu, dialah yang mengantarkan makanan di depan pintu rumah orang-orang miskin selama ini. Ja’far sering memberikan makanan kepada orang lain sehingga tak menyisakan makanan untuk keluarganya sendiri.

Suatu saat ia pernah menasehati anaknya, Musa, “Wahai anakku, siapa yang Qana’ah terhadap apa yang telah diberikan Allah swt, maka ia akan dicukupkan. Siapa yang melirik apa yang ada pada orang lain, ia akan meninggal dalam keadaan fakir. Siapa yang tidak ridha terhadap apa yang diberikan Allah, maka Allah akan mencurigai ketentuannya. Siapa yang menganggap kecil kekurangan orang lain, maka ia akan diagungkan kekurangan dirinya.

Siapa yang membuka kekurangan orang lain, maka akan dibuka keurangannya. Siapa yang menyiapkan pedang para pembangkang, ia akan terbunuh oleh olehnya. Siapa yang menggali lubang untuk saudaranya, Allah akan menjatuhkannya dalam lubang itu. Siapa yang bergaul dengan orang-orang bodoh, maka ia akan dihinakan. Siapa yang bergaul dengan para ulama, ia akan mulia. Siapa yang bergabung dengan kelompok orang-orang buruk, maka ia akan jadi tertuduh.

Wahai anakku, hindarilah mencela orang lain, karena engkau akan dicela. Berhati-hatilah jika masuk pada tempat yang engkau tidak berkepentingan, karena engkau akan hina. Katakanlah kebenaran, baik itu menguntungkanmu atau merugikanmu. Hendaknya engkau bermusyawarah dengan kerabatmu. Jadilah pembaca Al-Qur’an, penyebar Islam, Penyeru bagi yang ma’ruf, pencegah terhadap yang mungkar, penyambung bagi yang memutuskan hubungan. Jadilah yang mulai menegur bagi mereka yang mendiamkanmu. Jadilah pemberi bagi mereka yang meminta.

Jika engkau menginginkan kedermawanan, maka siapkanlah lahannya. Sebab kedermawanan itu mempunyai lahan. Setiap lahan itu mempunyai pohon, setiap pohon punya cabang, setiap cabang punya buah. Tidak mungkin buah itu akan baik jika tidak ada cabang, tak ada cabang jika tidak ada pohon, tidak ada pohon jika tidak ada lahan yang baik.

Kunjungilah orang-orang yang baik, jangan mendatangi orang-orang yang fajir, karena mereka ibarat batu karang yang tidak bias memancarkan air. Pohon tak mungkin menumbuhkan dedaunan (pada batu karang), dan bumi tidak akan menumbuhkan rerumputan.” Selanjutnya ia mengatakan. “Tidak ada bekal yang paling utama selain taqwa. Tak ada sikap yang lebih bijak daripada diam. Tidak ada musuh yang paling berbahaya daripada kebodohan. Tak ada penyakit yang paling mematikan kecuali berbohong. “

“Jika ada orang yang menjelek-jelekkanmu, maka engkau marah, sebab, jika yang dia katakana itu benar, maka iru sebagai hukuman yang disegerakan. Jika tidak benar, maka itu akan menjadi kebaikan yang belum engkau lakukan.”

Suatu ketika Khalifah Al-Manshur pernah kejatuhan lalat. Dia memaki-maki dan mengumpat, lalu bertanya kepada Ja’far bin Muhammad, “Untuk apa Allah menciptakan lalat?”

Ja’far bin Muhammad menjawab, “Untuk menghinakan para penguasa.”

Ja’far bin Muhammad meninggal pada tahun 148 Hijriyah dalam usia 68 tahun.

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY