Ia adalah tonggak sejarah dalam perkembangan ilmu hadits. Fenomena seorang intelektual dalam peradaban dan disiplin keilmuan.

Pada bulan Rajab banyak majlis taklim dan pesantren menggelar pengajian dengan membaca dan mempelajari kitab Hadits Sahih susunan Imam Bukhari yang biasanya diikuti oleh ratusan hingga ribuan orang. Acara yang banyak digelar diberbagai pelosok Jawa ini – seperti di Surabaya, pekalongan, Jakarta, bahkan juga mancanegara, seperti Sudan – biasanya disebut dengan “Bukharian”. Maksudnya bukan  berarti pengikut Imam Bukhari, melainkan membaca Hadits Sahih yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari.

Selain untuk mengkaji secara mendalam makna dan kandungan hadits sahih – yang adalah ucapan, perilaku dan kebiasaan Rasulullah SAW – acara Bukahrian di bulan Rajab juga dimaksudkan sebagai Tabarrukan, sebuah kegiatan yang mengharapkan berkah. Sebut saja apa yang dilakukan di Majelis Taklim Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang, Jakarta Pusat, di Rumah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, di Gresik Jawa Timur, 10 September, di Masjid Al-Hawi, Condet Jakarta Timur 11-12 September 2004.

Acara tersebut biasanya diselenggarakan sejak pagi hingga petang. Tidak jelas kapan tradisi Bukharian di kalangan majelis taklim dan pesantren itu muncul, bahkan di Sudan acara Bukharian diakhiri dengan pembagian ijazah bagi para pesertanya. Membaca dan mempelajari kitab sahih Bukhari tidak mungkin lepas dari pengenalan terhadap pengarangnya.

Ia adalah ahli hadits yang paling termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini. Ia memang lebih diunggulkan ketimbang para perawi hadits lainnya, seperti Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Bahkan ia disebut “Amirul Mukminin Fil Hadits” (Pemimpin kaum Mukmin dalam hal ilmu hadits). Sebab pengaruhnya memang benar-benar terasa hingga sekarang. Dalam hal ilmu hadits, semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Upayanya yang lama dan gigih dalam meneliti ribuan hadits sangat menakjubkan. Karya ilmiah berdasarkan survei mendalam yang tiada taranya dalam khasanah intelektual mana pun. Akurasi, ketelitian dan kesabarannya, membuktikan pengabdian dan profesionalitasnya sebagai intelektual yang tiada banding. Naskah-naskahnya menjadi rujukan para ulama sepanjang zaman. Imam  Bukhari adalah fenomena yang sangat menonjol dalam peradaban manusia.

Nama lengkapnya cukup panjang, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah Al-Jufri al-Bukhari, karena lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Ia lebih dikenal sebagai Bukhari. Ia lahir beberapa saat setelah waktu shalat Jum’at, 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), tak lama setelah lahir dan membuka matanya, bayi genius itu kehilangan penglihatannya.

Ayahnya Ismail yang alim, yang juga pakar Hadits, sangat bersedih, sementara ibunya yang saleh selalu berdoa kepada Allah SWT agar bayinya dapat melihat kembali. Beberapa hari kemudian dalam mimpinya sang Ibu bertemu Nabi Ibrahim, “Wahai Ibu, Allah SWT telah menyembuhkan penyakit putramu dan sekarang ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat doamu yang tiada henti-hentinya,” kata Nabi Ibrahim dalam mimpi itu. Benar ketika sang Ibu terbangun, penglihatan bayinya sudah kembali normal.

Ahli Fikih

Bukhari kecil dididik dalam lingkungan keluarga yang saleh. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis, selain alim dan berilmu, ayah Imam Bukhari juga sangat bertaqwa dan Wara’ – orang yang selalu ingin menghindari segala perkara yang haram dan Syubhat, meragukan dari sudut agama. Menjelang wafat, sang ayah berpesan, “Dalam harta yang kumiliki ini tidak ada sedikitpun uang haram maupun Syubhat.” Ayahnya adalah salah seorang murid Imam Malik, Fuqaha, atau ahli fikih termasyhur, dan pendiri mazhab Maliki. Tidak mengherankan jika Bukhari kecil mewarisi keluhuran akhlak dan ketaqwaan sang ayah – yang wafat ketika Bukhari masih kecil.

Selain kitab As-Siqat, sejumlah kitab juga memuat biografi Imam Bukhari dan prestasi intelektualnya. Misalnya Hadits Nabawi dan sejarah kodifikasinya (Yusuf Qardawi), Kutubus Sittah (Dr. MM. Abu Syuhbah), Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam ilmu Hadits (Dr. H. Ali Musthafa Yaqub MA) dan sebuah buku kecil sejarah Imam Bukhari dan Karyanya, oleh Muhsin bin Muhammad Al-Jufu Abdurrahman Al-Hadad.

Setelah ayahnya wafat, Bukhari diasuh oleh ibunya seorang diri. Pada usia 10 tahun, ia berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama hadits yang masyhur di Bukhara. Dan setahun kemudian, ketika berusia 11 tahun, ia sudah mempelajari beberapa hadits. Lima tahun kemudian, ketika berusia 16 tahun, bersama ibu dan saudara sulungnya ia mengunjungi beberapa kota suci, terutama Mekah dan Madinah. Di dua kota suci itu ia mengikuti kuliah para guru besar hadits. Dan dua tahun kemudian, ketika usianya 13 tahun, ia menerbitkan kitab pertamanya, “Kazayal Sahabah wa Tabi’in.

Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah hafal kitab-kitab hadits karya Ibnu Mubarak dan Waki bin Jarrah bin Malik. Ia juga sudah mempelajari pendapat para ahli Ra’yi, atau penganut paham rasional, dasar-dasar pemikirannya, dan mazhabnya. Pada usia yang masih muda itu pula ia sudah mampu menghafal 1 juta hadits. Pada suatu hari, Syekh Ishaq, salah seorang guru Bukhari, menyatakan keingnannyua agar salah seorang santrinya dapat menghimpun hadits-hadits yang sahih dalam sebuah kitab. Mendengar itu Bukhari muda berjanji akan memenuhinya. Segera setelah itu iapun menapis, menyaring, satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi menjadi 7.275 hadits.

Tentang kekuatan hafalannya, Rasyid ibnu Ismail, kakak sulungnya, menuturkan, “Pernah Bukhari dan beberapa murid mengikuti kuliah seorang cendikiawan dari Balkh, tidak jauh dari Bukhara, tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak mencatat kuliah-kuliah itu, sehingga ia sempat dikritik, tapi ia diam saja. Pada suatu hari karena ia kesal mendengar kritik terus menerus, Bukhari minta kawan-kawannya membawa catatan, maka tercenganglah mereka karena ternyata Bukhari menghafal luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan terperinci yang justru tidak sempat mereka catat.

Sosok Bukhari kurus, sedang, tidak tinggi, tidak pendek, kulit agak kecoklatan. Ia sangat sedikit makan, sangat pemalu, namun peramah, suka bersedekah dan dermawan, menjauhi kesenangan duniawi, dan lebih banyak beribadah. Hartanya lebih banyak untuk kepentingan pendidikan. Ia sangat senang membantu para pelajar. Suatu hari ia berkata, “Setiap bulan aku menghasilkan 500 dirham, semuanya untuk kepentingan pendidikan. Sebab apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.” Sejak kecil kegeniusan yang cemerlang sudah tampak. Berkat anugerah Allah SWT, daya ingat dan daya hafalnya sangat kuat.

Bersambung Bagian Kedua Kisah Imam Bukhari: Berguru pada 1.080 Ahli Hadits Selama 16 Tahun

 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY