Bagian Pertama Kisah Al-Hallaj

Menurut Al-Hallaj, Allah SWT menciptakan menusia menurut bentuk-Nya, dalam pengertian bahwa, kendati manusia adalah makhluk dan bukan Tuhan, manusia mempunyai tabiat kemanusiaan  yang menyerupai tabiat ketuhanan Allah SWT. Dengan kata lain, tabiat kemanusiaan adalah tabiat ke-Tuhan-an yang tidak sempurna, sedangkan tabiat ketuhanan Allah SWT Maha Sempurna, suci dari kekurangan. Banyak sufi se zamannya yang berbicara seperti itu, misalnya Syekh As-Syibli, yang bahkan dianggap gila. Lain halnya dengan AL-Hallaj, ia tidak dianggap gila, tapi orang waras yang bijak.

Banyak kisah menarik di sekitar Al-Hallaj, terutama pergaulannya dengan Junaid Al-Bagdadi. Pada suatu hari Syekh Junaid berkata, “Hai, Mansur (Al-Hallaj) tak lama lagi suatu titik dari sebilah papan akan diwarnai oleh darahmu!” maka sahut Al-Hallaj, “Benar, tapi engkau juga akan melemparkan pakaian kesufianmu dan mengenakan pakaian Maulwi Ana Al-Haq.”  Dan ternyata dua ramalan itu menjadi kenyataan. Pada suatu hari Al-Hallaj benar-benar dirangsang oleh “Api cinta Ilahiyah” dan kembali meneriakkan “Ana al-Haq” tanpa henti.

Para guru dan teman-temannya seperti Syekh Junaid dan As-Syibli, menasihati dia agar menahan diri. Namun ia tidak mempan oleh teguran itu. Al-Hallaj terus saja mengulang seruannya, “Ana Al-Haq,” setiap saat. Gara-gara itulah, kaum ulama syariat bangkit melawan Al-Hallaj, didukung oleh Hamid bin Abbas, Perdana Menteri Irak. Dan akhirnya keluarlah “Fatwa Kufur”, yang menyatakan bahwa Al-Hallaj melanggar ketentuan agama dan dapat dihukum mati.

Tapi ketika hukuman itu disampaikan untuk mendapat persetujuan Khalifah Muqtadir Billah menolaknya, kecuali fatwa tersebut di tanda tangani oleh Syekh Junaid Al-Bagdadi, maka Khalifah Muqtadir pun mengirimkan fatwa itu kepada Syekh Junaid – sampai enam kali. Pada kiriman yang ke tujuh, Syekh Junaid membuang pakaian kesufiannya lalu memakai pakaian keulamaan. Setelah itu ia menulis pada surat jawaban: menurut hukum syariat, Al-Hallaj dapat di jatuhi hukuman mati, tapi menurut ajaran rahasia kebenaran, Allah Maha Tahu!.

Maka Al-Hallaj pun ditangkap pada tahun 913 M / 309 H. ia ditahan dan dijebloskan kedalam penjara. Para ulama pro pemerintah menuduhnya sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak sesuai dengan syariat. Bahkan ia dituduh berkomplot dengan kelompok perusuh Qaramithah yang mengancam kedaulatan Bani Abbasiyah. Maka Al-Hallaj pun dihukum mati dengan cara disalib.

Saat mereka membawa Al-Hallaj ke tiang gantungan di Bab al-Taq, ia mencium kayunya dan menaiki tangganya sendiri.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya mereka.

“Mi’rajnya seorang kasatria adalah di tiang gantungan,” jawabnya.

Ia mengenakan celana sebatas pinggang dan mantel di bahunya. Sambil menghadap ke arah kiblat, ia menengadahkan kedua tangannya dan mulai bercengkrama dengan Allah.

“Apa yang diketahui-Nya, tak seorang pun mengetahuinya,” katanya. Lalu ia pun naik ke tiang gantungan.

Sekelompok orang pengikutnya bertanya, “Bagaimana menurutmu, mengenai kami yang merupakan para pengikutmu, dan mengenai mereka, yang hendak merajammu?”

“Mereka mendapat dua pahala, sedangkan kalian satu,” jawabnya. Kalian hanya berprasangka baik padaku, sedangkan mereka digerakkan oleh kekuatan keimanan terhadap Allah untuk menjaga kelurusan hukum-Nya.”

Kemudian As-Syibli mendekat dan berdiri di hadapannya sambil berkata, “Bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” pekiknya. Lalu ia bertanya, “Wahai Al-Hallaj, apa itu sufisme?”

Al-Hallaj menjawab, “Yang engkau lihat ini adalah derajat terendahnya.”

“Lalu apa yang lebih tinggi daripada ini?” tanya As-Syibli.

“Yang tak dapat engkau capai,” jawab Al-Hallaj.

Orang-orang mulai melempari Al-Hallaj dengan batu. Sedangkan As-Syibli, demi menyesuaikan diri, melempar segumpal tanah. Al-Hallaj merintih.

Mereka bertanya, “Engkau tidak merintih saat dilempar dengan batu-batu itu. Tapi mengapa engkau merintih sewaktu terkena lemparan segumpal tanah?”

“Karena mereka yang melemparku dengan batu tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Mereka punya alasan. Sedangkan ia yang melempar gumpalan tanah itu, ia mengetahui bahwasanya tidak seharusnya ia melakukan itu kepadaku. Itulah yang menyakitkanku.”

Kemudian mereka memenggal kedua tangannya, Al-Hallaj pun tertawa.

“Mengapa engkau tertawa?” pekik mereka.

“Sungguh mudah memenggal kedua tangan orang seseorang yang terbelenggu,” jawabnya. “Namun dibutuhkan seorang kasatria untuk memenggal tangan-tangan segenap sifat yang melepaskan mahkota cita-cita dari dahi-Nya.”

Mereka memotong kedua kakinya. Ia pun tersenyum.

“Dengan kedua kaki ini, aku melakukan perjalanan duniawi,” katanya. “Dengan dua kaki lainnya yang kupunya, aku bahkan bisa berjalan di dua alam (dunia dan akhirat). Jika kalian mampu, potonglah kedua kaki itu!”

Lalu ia mengusapkan kedua tangannya yang bunting ke wajahnya, sehingga lengan dan wajahnya berlumuran darah.

Mereka bertanya, “Mengapa engkau melakukan itu?”

“Aku telah kehilangan banyak darah,” jawabnya. “Aku sadar bahwa wajahku telah memucat. Kalian menyangka bahwa pucatnya wajahku disebabkan oleh ketakutanku. Maka kuusapkan darah ke wajahku agar pipiku tampak semerah mawar di mata kalian. Riasan para ksatria adalah darah mereka.”

“Lalu mengapa engkau juga melumuri lenganmu dengan darah?”

“Aku tengah berwudlu.”

“Wudlu untuk apa?”

“Saat seseorang hendak mendirikan shalat dua rakaat dalam cinta,” jawab Al-Hallaj. “Wudlunya belum sempurna bila tidak dilakukan dengan darah.”

Kemudian mereka mencungkil kedua bola matanya. Raungan terdengar di antara kerumunan orang. Sebagian menangis, sebagian melempar batu. Lalu mereka hendak memotong lidahnya.

“Sabarlah sedikit, beri aku waktu untuk mengutarakan sepatah-dua patah kata,” ujarnya. “Ya Allah, pekiknya sambil menengadahkan wajahnya ke langit. “Janganlah engkau usir mereka dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan padaku karena Engkau. Jangan pula Engkau cabut kebahagiaan ini dari mereka. Segala puji bagi Allah, karena mereka memotong kedua kakiku saat aku tengah meniti jalan-Mu. Dan jika mereka memenggal kepalaku, sungguh mereka telah mengangkatku ke tiang gantungan, merenungkan keagungan-Mu.”

Sebelum dihukum mati, ia shalat dan berdoa, “Ya Allah, mereka adalah hamba yang berhimpun untuk membunuhku, karena fanatik kepada agama-Mu dan hendak mendekatkan diri kepada-Mu. Maka ampunilah dan berilah rahmat kepada mereka. Karena jika engkau membuka hati mereka, seperti engkau membuka hatiku, mereka tidak akan melakukan seperti yang sedang mereka lakukan terhadapku. Dan jika engkau tutup hatiku seperti engkau menutup hati mereka, niscaya aku tidak akan diperlakukan seperti ini.”

Kemudian mereka memotong daun telinga dan hidungnya. Seorang yang membawa kendi kebetulan hadir di sana. Melihat Al-Hallaj, ia memekik, “Penggal, penggal dengan keras dan benar! Apa urusannya ia bicara tentang Tuhan?”

Kata-kata terakhir yang diucapkan Al-Hallaj adalah “Cinta-Nya adalah pengasingan-Nya.” Kemudian ia membaca sebuah ayat: “Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan, dan orang-orang yang beriman merasa takut padanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi).”

Itulah kata-kata terakhirnya.

Kemudian mereka memotong lidahnya. Baru ketika shalat maghrib tiba mereka memenggal kepalanya. Bahkan saat mereka memenggal kepalanya, Al-Hallaj tersenyum, lalu setelah itu ia meninggal dunia.

Tangisan membahana dari kerumunan orang. Al-Hallaj telah membawa bola takdir ke batas medan tawakal. Tiap potongan tubuhnya menyerukan, “Akulah Kebenaran.”

Keesokan harinya mereka mengatakan, “masalah ini akan bertambah buruk ketimbang saat ia hidup.”

Maka mereka pun membakar jasadnya. Dari abunya pun terdengar seruan, “Akulah Kebenaran.” Bahkan pada saat pembantaiannya, tiap tetes darahnya membentuk nama Allah”.

Mereka tercengang melihat semua itu, lalu mereka membuang abunya ke Sungai Tigris. Abunya mengambang di permukaan sungai Tigris dan terus menyerukan, “Akulah kebenaran.”

Sebelum dieksekusi Al-Hallaj telah berpesan kepada pembantunya, “Saat mereka membuang abu jasadku ke Sungai Tigris, Baghdad akan terancam tenggelam. Hamparkanlah jubahku di sungai, kalau tidak, Baghdad akan hancur.”

Pembantunya, saat melihat apa yang terjadi, membawa jubah Al-Hallaj dan menghamparkannya di tepi Sungai Tigris. Air pun surut dan abu Hallaj pun diam. Kemudian mereka mengumpulkan abunya dan menguburkannya.

Kematian Al-Hallaj merupakan kehilangan besar sekaligus noda hitam dalam dunia tasawuf. Namun pemikirannya tetap hidup terus, tak lekang oleh ruang dan waktu.

 

Sumber kisah Al-Kisah Nomor 16 . 2 –15 Agt 2004

Bagian Pertama Kisah Al-Hallaj

33 COMMENTS

  1. Alfateha radhiallahu ta’allah waillahadrati sayyid husein bin manshur Alhallaj,,,,,,,saiyulillahi ta’allah
    Alfateha

  2. Subhaanallah. Ya Allah berilah & siramilah hati kami dengan keyakinan yg Engkau berikan kpd Ibnu mansur Alhalaj.

  3. maasyaaAllah kaana wamaalam yasya’ lam yaukun terkadang manusia mengambil alih tugas dan haq Allah dalam menghukumi sesuatu padahal hanya Allah pemilik kebenaran itu, semoga Allah mengampuni dosa-dosa al Hallaj dan dosa-dosa orang yang telah menzaliminya wallaahu a’lam

  4. He he he… Ketika pemberhalaan telah berhenti. Hijab pun telah terbuka. He he he.. Dimana aku? Kemana aku? Ternyata aku sendiri. He he he…

  5. Kehilangan akal(syatah)lalu oleh sangatnya tarikan jadzabmmenjeritlah ia…..Aku adalah siapa yang kucintai. Dan siapa yang ku cintai adalah aku. Akulah yang merindukan diriku. Aku pula yang terindukan. Aku pemuda demi diriku. Aku pula pemudi demi diriku

  6. Al-hallaj boleh mati tp ajaran tassawufnya akan sll hidup.tenang ibn mansyur .generasi berikut tetap ada.engkau tinggal tersenyum saja dialam keabadian illahi krn engkau sdh berjumpa dg kekasih yg engkau cintai.semangat kobaran api tauhidmu takkan pernah padam.api tauhid itu akan tetap aku jaga walau aku dan diriku serta diri-NYA{SEMBUNYI DDLM TERANG)Wassalam.jk kalian penasaran thdku cari diriku dan temukanlah aku ddlm cintamu.salam kenal.085313579513

  7. Seseorang yang mereguk cinta-Nya, kata kata hanya rangkaian hurup yang tak lagi bermakna,
    karena kata-kata tak lagi sanggup menjelaskan besarnya cinta Al Hallaj kepada sang penciptaNya Allah SWT, meski harus menebus dengan kematian, karena kematian itu sendiri bukanlah akhir dari segalanya…Subhanallah…kata tukul pertinyiinnyiiii,apa kita sanggup,?masih takut dengan dunia?sudah diberi kecukupan masih saja korupsi?merasa diri benar?takut dengan manusia ,adi daya suatu negara, takut miskin?..kelompok atau para bos?..mudah menuduh dan mengkafirkan yang lain? begitu banyak kenistaan diri ini!!!!Cukupkanlah aku dengan nikmat-Mu dan berkah-Mu Ya ALLAH, dan tuntunlah para pemuja-Mu menuju jalan-Mu…wallahu allam bhis shawab

  8. Seseorang yang mereguk cinta-Nya, kata kata hanya rangkaian hurup yang tak lagi bermakna,
    karena kata-kata tak lagi sanggup menjelaskan besarnya cinta Al Hallaj kepada sang penciptaNya Allah SWT, meski harus menebus dengan kematian, karena kematian itu sendiri bukanlah akhir dari segalanya…Subhanallah…,apa kita sanggup,?masih takut dengan dunia?sudah diberi kecukupan masih saja korupsi?merasa diri benar?!Cukupkanlah aku dengan nikmat-Mu dan berkah-Mu Ya ALLAH, dan tuntunlah para pemuja-Mu menuju jalan-Mu…wallahu allam bhis shawab

  9. sungguh menakjub kan kisah alhalaq. imanya begitu mantap. tpi aku heran. mengapa manusia bgtu benci pd nya. apakah mnsia tdk berpikir……..?
    disisi syariat dia slh. krn menzohirkan yg batin. tpi disisi Allah…. .

  10. ajaran sufi ini menjauhkan ummat islam dari sumber agamanya yaitu Al-Qur’an dan Al Hadits….seolah kaum sufi mau mengatakan bahwa islam belum sempurna,merekalah yg sempurna…..ajaran yg bertentangan dengan Al-Qur’an….

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

  11. ini kisah fiktif yg penuh khayal…seolah mengangkat derajat nya melebihi derajat para Rasul dan shahabat2 nya….naudzubillah….

  12. Itulah sebabnya jangan hanya sibuk di syariat ataupun sibuk di hakikat.
    Sibuklah di kedua-duanya.

    Bukankah Al-Hallaj terlalu mirip dengan nabi Isa a.s?
    Itulah sebabnya jika ingin mendalami tasawuf, maka jadilah seperti Syeikh Junaid, gurunya Al-Hallaj.

    Al-Hallaj sudah diperingatkan oleh gurunya
    “Jangan kau ungkap rahasia kepada orang ramai” sebab Syeikh junaid tau mereka tidak akan terima.
    Al-Hallaj pun bukannya tidak tau, tetapi karna gelora hatinya terlampau besar.

    Bukankah seperti Isa.., Hallaj dan Jenar mati dibunuh syariat.

    – Belajar syariat saja maka kalian termasuk golongan yang membunuh Isa, Hallaj dan Jenar tanpa ilmu.
    – Belajar Hakikat saja maka kalian termasuk orang yang dibunuh.
    – Maka pelajarilah kedua-keduanya dan niscaya tidak akan ada bunuh-membunuh. Makrifatullah!!

    Jikalau semua orang seperti syeikh Junaid, tidaklah terjadi hukuman mati kepada Al-Hallaj. Meskipun syeikh Junaid yang menyetujui hukuman tersebut.
    Karena dia tau apa sebab dan akibat berikutnya bila “Mengatakan sesuatu tidak pada tempatnya”
    Pahamilah! “Wajib dibicarakan, tidak wajib dibicarakan”

    Sama seperti Wali Songo, mereka pun tau apa yang terjadi dengan syekh Siti Jenar.
    Tapi mereka tau apa yang akan terjadi jika “Sesuatu yang dibicarakan tidak pada tempatnya, maka akan membawa kemudharatan”.

    Baik wali songo maupun syeikh Junaid yang ikut mengadili..,mereka tau bahwa baik Al-Hallaj maupun Siti Jenar tidaklah salah.
    Yang salah adalah orang yang tidak tau (hakikatnya: org yg tidak tau pun tidak bisa disalahkan)
    Itulah sebabnya mengapa mereka diadili.

    Bukankah Al-Hallaj dan Siti Jenar terlalu sama dengan Isa a.s.
    Maha benar Allah yang telah mengutus Rasulullah s.a.w untuk menyeimbangkan antara Syariat dengan Hakikat.
    Ikutlah Rasulullah, ikutilah syariat, ikutilah Hakikat, niscaya kita bermakrifat.

    Jikalau bermakrifat, sudah tentulah kita tidak akan menyalahkan Al-Hallaj, Syeikh Junaid, Wali Songo, maupun Syeikh Siti Jenar.
    Mereka semua benar.
    Inilah tanda Allah atas kebesarannya!
    Bagi mereka yang mau berpikir.

  13. Dalam hidup ini tidak ada yang salah dalam pembenaran, yang salah adalah mensikapi dengan cara sudut pandang yang berbeda.
    Yang benar belum tentu benar
    Hanya dengan rasa kebenaran terungkap , selamat berpetualang dlm rasamu / batinmu. Hu Allah.

  14. Dalam hidup ini tidak ada yang salah dalam pembenaran, yang salah adalah mensikapi dengan cara sudut pandang yang berbeda.
    Yang benar belum tentu benar
    Hanya dengan rasa kebenaran terungkap , selamat berpetualang dlm rasamu / batinmu. Hu Allah.

  15. Syeikh Al Hallaj telah menceritakan rahasia keTuhanan, padahal hal tersebut dilarang oleh para wali Allah, oleh karena itu secara syariat ia boleh dihukum mati, alan tetapi hal yang harus digaris bawahi ialah, ia dihukum mati bukan karena perkataannya yang salah, tetapi para wali Allah khawatir terhadap orang awam yang mendengarnya kemudian menanggapnya ganjil karena orang awam ilmunya tidak sampai ke sana. Mungkin yang komentar merendahkan kisah ini wajar, karena tidak merasakan apa yang dirasakan Syeikh Al Hallaj. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY