Dia adalah sufi yang mengalami nasib yang sama dengan Al-Hallaj. Dalam usia 33 tahun ia di penjara dan di hukum mati oleh penguasa di Hamazan, Iran, pada 1131 M. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Ma’ali Abdullah bin Abi Bakar Muhammad bin Ali Al-Miyanaji al-hamazani. Dia lahir di Hamazan pada 1098 M dari keluarga terpelajar yang berasal dari Miyanaj Azarbaijan. Kakeknya seorang hakim di Hamazan dan terbunuh ketika para penjarah melakukan keonaran di kota tersebut pada tahun 1000 M.

Kendati data hidup Ain Al-Qudah yang dapat dilacak sangat terbatas, tersimpul dari tulisannya bahwa ia adalah seorang yang luar biasa, lebih cepat memperoleh kematangan intelektual dibanding dengan pemuda seusianya. Ia pernah menulis dan berujar, “Tidak mengherankan kalau orang-orang iri kepadaku karena melihatku pada usia 20 tahun lebih mampu menyusun risalah yang orang lain seusia 60 tahun sulit memahaminya, apalagi menyusunnya,” ujarnya. Dalam usia masih remaja ia dengan cepat mampu menguasai hampir semua cabang ilmu pengetahuan, seperti Hadis, Tafsir, Fiqh, Teologi, Sastra Arab, Logika dan Filsafat. Dalam ilmu fikih ia penganut mazhab Syafi’i.

Ain Al-Qudah pernah merasa berada dalam kebingungan ketika memikirkan kebenaran tentang Tuhan. Ia berkata, “Aku berada nyaris di pinggir Neraka, kalau saja Allah tidak menolongku dengan rahmat dan kemurahan-Nya.” Ia merasa, kitab-kitab teologi hanya menambah kebingungannya dan ia merasa tertolong dengan kebingungannya. Setelah menela’ah tulisan-tulisan Al-Ghazali selama 4 tahun. Kitab Ihya’ Ulumudin sangat berpengaruh pada dirinya sehingga mata hatinya terbuka. Perubahan orientasinya kepada tasawuf menjadi sempurna setelah bergaul dengan Ahmad Al-Ghazali dan ikut serta dalam praktik meditasi, zikir dan tarian sufi. Ain juga berguru kepada Abu Abdillah al-Juwaini, pengarang kitab Shalwat at-Thalibin.

Ia cukup banyak menulis. Konon, ia sudah menulis sejak usia 14 tahun. Tulisannya dalam bahasa Arab di nilai lancar dan indah. Jumlah risalah yang dikarangnya lebih kurang 19 buah. Antara lain tentang bahasa, ilmu hitung, filsafat, teologi, tafsir dan tasawuf. Karangannya antara lain, Zubdatul Haqaiq (tentang filsafat dan teologi), Tamhidat (tentang tasawuf), Maktubat (surat-suratnya), Syakwa al-Gharib (pembelaan diri), Syareh Kalimat Qisar Baba Thahir (sebuah daftar istilah tasawuf), Risalah Yi Yazdan Sinakht (pengetahuan tentang Tuhan), Risalah Yi Lawaih (tentang cinta kepada Tuhan).

Dalam Syakwa Al-Gharib, yang ditulisnya pada waktu ia berada di penjara Baghdad, ia menyesalkan para ulama yang telah berbuat zalim kepadanya dengan memberikan penafsiran yang salah terhadap ungkapan-ungkapannya yang menjadi sasaran serangan. Ia mempunyai pandangan bahwa nubuat (kenabian) merupakan sebuah tahap atau tingkatan (tawr) di balik tingkatan kewalian, sedangkana kewalian berada di balik tahap akal.

Paham ini dicela oleh para pendakwanya, karena mengartikan bahwa adanya tahap di balik tahap akal berarti menghalangi orang banyak untuk percaya kepada kenabian. Dengan logika sederhana seharusnya Ain bisa menjelaskan bahwa tahap kewalian tidak otomatis akan naik menjadi tahap kenabian, begitu juga dengan tahap kewalian bukan berarti harus menempuh tahap akal lebih dulu.

Peringkat Tertinggi

Berasal dari kata, An-Naba’ yang berarti memberi kabar atau memberitahukan (QS. 78: 2), kata Nubuat terdapat dalam lima ayat Al-Qur’an, yaitu pada Surah Ali-Imron ayat 79, Al-An’am ayat 89, Al-Anhkabut ayat 27, Al-Jaziyah ayat 16, dan Al-Hadid ayat 26. Nubuat atau sifat kenabian itu adalah mutlak pemberian Allah SWT kepada hamba pilihan-Nya.

Nubuat adalah sifat yang diberikan Allah kepada manusia pilihan-Nya, yakni manusia-manusia yang tergolong peringkat tertinggi. Hal itu  dikarenakan mereka memiliki keistimewaan dan kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Keistimewaan itu adalah anugrah Tuhan kepada mereka untuk memperoleh hidayah-Nya berupa agama melalui wahyu-wahyu tingkat tertinggi pula, yaitu wahyu Allah. Wahyu tersebut tidak hanya terdiri dari makna, tetapi juga kata-kata yang dibacakan Malaikat Jibril, sehingga dapat di dengar oleh pendengaran batin Nabi. Ibnu Sina mengatakan, “Manusia yang memperoleh derajat Kenabian itu di anugrahi akal yang besar dan kuat serta berdaya suci. Keistimewaan akal tersebut diperoleh melalui anugrah Allah SWT.

Memberikan anugerah kenabian kepada seseorang adalah hak mutlak Allah SWT (QS. 22: 75, 3: 33, 4: 125, 20: 13, 41 dan 42: 52). Kenabian bukan suatu derajat dan martabat yang didapat sebagai hasil usaha kerja keras atau warisan. Oleh karena itu, sekalaipun ada orang yang berusaha sekuat tenaga, misalnya dengan melakukan ibadah yang banyak dan rutin dengan kuantitas dan kualitas yang prima, menjauhi kehidupan duniawi dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, jika tidak dipilih oleh Allah SWT tidak akan mendapatkan Nubuat.

Abdul Halim Mahmud menyatakan, berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, kenabian adalah “jabatan” yang dianugrahkan kepada seseorang yang dipilih menjadi perantara antara Allah dan hamba-Nya untuk memperbaiki keadaan, memperbaiki akhlak, menata kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah, dan mencegah kemungkaran. Para penerima sifat kenabian dipersiapkan dan diberi keistimewaan agar mampu menerima wahyu Allah SWT.

Para Nabi dipilih Allah dari keluarga terhormat dalam masyarakatnya, keluarga yang memang berbeda dan unggul atas keluarga yang lain. Disamping mempunyai derajat yang tinggi dari sisi keduniaan, mereka merupakan pewaris ajaran Nabi sebelumnya, dengan demikian mereka manusia paling mulia dizamannya.

Orang yang dipersiapkan Tuhan sebagai calon Nabi dianugrahi sifat-sifat kemanusiaan yang sempurna yang tidak dapat ditandingi manusia lainnya, seperti sifat utama, Kejujuran, kesabaran, keberanian, kebijaksanaan dan berbagai perilaku terpuji lainnya. Misalnya Nabi Yusuf AS ketika menghadapi saudara-saudaranya yang pernah membuang dirinya ke dalam sumur di tengah-tengah padang pasir, tidak memiliki dendam kesumat di dalam dirinya, bahkan dengan sikap yang sangat bijaksana ia membantu saudara-saudaranya tersebut. Contoh lain adalah kejujuran yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menjalankan usaha dagang Siti Khadijah. Terhadap pembeli ia tidak pernah berdusta dan menipu, sementara terhadap pemilik modal ia pun selalu jujur.

Predikat Al-Amin, “dapat dipercaya” yang diberikan masyarakat Quraisy terhadap Muhammad membuktikan bahwa Muhammad adalah orang yang mempunyai sifat terpuji sejak mudanya. Biasanya calon Nabi hidup pada masa yang penuh kegelapan, ketika moral manusia jatuh pada titik terendah, hawa nafsu dan hukum rimba berkembang pesat. Keganasan dan kekejaman berkembang jadi ciri utama. Ketika kenabian akan di lekatkan kepada Nabi Muhammad, masyarakat Quraisy mempunyai “Hobi” membunuh anak perempuan yang baru lahir. Kebiasaan yang merepresentasikan hilangnya nilai kemanusiaan.

Selain Nubuat, para manusia pilihan tersebut juga memiliki “Ismah” yaitu kekuatan hati (malakah) yang terdapat pada diri seseorang yang dapat mencehag dan melarangnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Ibnu Hazam Al-Andalusi, seorang intelektual muslim Spanyol mengatakan, “Ismah Rasul adalah terpeliharanya mereka dari perbuatan dan perkataan yang dapat menimbulkan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Kesalahan persepsi dalam menafsirkan pendapat tentang Nubuat, kewalian dan akal ini yang menyebabkan Ain Al-Qudah dituduh sesat. Selain itu, pendapat Ain yang menyatakan bahwa seorang murid perlu bimbingan mursyid agar tidak tersesat, disalah artikan sebagai pendapat bahwa mursyid itu bersih dari dosa (ma’shum) seperti Rasulullah. Ini juga membuat Ain di vonis sesat dan menyesatkan sehingga diputuskan ia harus dihukum mati.

SHARE
Previous articleJa’far Bin Muhammad Bin Ali
Next articleSunan Drajat
SUFIz.com merupakan website/blog yang menyajikan beragam kisah teladan dari para nabi, para sufi, para wali, para sunan, para Mujahid bahkan juga dari kisah-kisah Abu Nawas yang dikenal dengan cerita-cerita lucunya.