Abu Yazid mengisahkan tentang dirinya: selama 12 tahun aku menggembleng jiwaku. Aku mendorong jiwaku masuk ke tungku disiplin dan membuatnya kepanasan dalam kobarab api kesulitan, lalu aku menaruhnya di bawah alas kaki kotor kehinaan dan menempanya dengan palu penyalahan diri, hingga aku mampu mengubahnya menjadi sebuah cermin.

Selama lima tahun aku menjadi cermin bagi diriku sendiri, dan aku menggosok cermin itu dengan ibadah dan kepatuhan mutlak kepada Allah. Setelah itu, aku memandang cerminku sendiri selama satu tahun, aku melihat sebuah “korset kafir”  angan-angan, main-main dan egoisme, mengikat pinggangku, karena aku mengandalkan ibadah dan kepatuhanku sendiri serta puas dengan perilakuku sendiri.

Selama lima tahun berikutnya, aku bekerja keras hingga korset itu menghilang dan aku menjadi seorang muslim sekali lagi. Aku memandang semua makhluk, dan melihat mereka semua mati. Aku bertakbir empat kali untuk mereka, dan kembali dari upacara penguburan mereka tanpa berdesakan dengan makhluk-makhluk Allah. Dengan pertolongan Allah, aku mencapai-Nya.

***

Setiap kali Abu Yazid tiba di pintu sebuah masjid, ia akan berdiri sejenak dan menangis.

“Mengapa engkau melakukan hal itu?” ketika ditanya.

“Aku merasa diriku bagai seorang wanita yang tengah haid, yang malu untuk memasuki masjid dan takut mengotorinya.” Jawabnya.

***

Pir Umar mengisahkan bahwa ketika Abu Yazid hendak mengasingkan diri untuk beribadah, ia akan masuk kerumahnya dan menutup rapat-rapat semua celah yang ada. “Aku takut ada suara-suara atau kebisingan yang akan menggangguku.” Katanya.

Tentu saja perkataannya itu hanya dalih.

Isa al-Bisthami mengisahkan, “Aku bergaul dengannya selama 13 tahun dan aku tidak pernah mendengar mengucapkan satu patah katapun. Ia meletakkan kepala di atas lututnya, begitulah kebiasaannya, sesekali ia mengangkat kepalanya, mendesah, lalu kembali beribadah.”

Sahlagi juga mengisahkan bahwa memang begituylah kebiasaan Abu Yazid saat ia tengah berada dalam keadaan “menyusut” sebaliknya, di hari-hari ia tengah berada dalam keadaan “mengembang”, setiap orang merasakan manfaat yang besar dari nasehatnya.

Suatu ketika,  saat ia mengasingkan diri, ia berkata, “Kemuliaan atasku, betapa besar martabatku”. Ketika ia kembali menjadi dirinya sendiri, para muridnya memberitahukan bahwa ia telah berkata demikian. Ia menjawab, “Allah adalah musuhmu, dan Abu Yazid juga musuhmu. Jika aku berbicara seperti itu lagi, potonglah-potonglah tubuhku,” kemudiaa ia memberi setiap muridnya sebilah pisau seraya berkata, “Jika kata-kata itu meluncur dari mulutku lagi, bunuhlah aku dengan pisau ini.”

Ternyata perkataan itu meluncur lagi dari mulut Abu Yazid. Seluruh ruangan terasa sesak dipenuhi oleh Abu Yazid (yang membesar). Agar tidak terhimpit, para sahabatnya menarik keluar batu bata dari dinding, dan masing-masing menusuknya dengan pisau. Pisau-pisau itu menusuk tubuh Abu Tazid seperti menusuk air, tak satupun tusukan yang dapat melukainya. Setelah beberapa saat, bentuk Abu Yazid kembali seperti semula, kemudian menyusut, hingga ia tampak seperti burung pipit, duduk di mihrab. Para sahabatnya menghampirinya dan mengatakan apa yang terjadi padanya. “Ini adalah Abu Yazid, ia yang kini kalian lihat,” ujarnya. “Yang tadi bukanlah Abu Yazid.”

***

Suatu hari, seorang lelaki yang tidak mempercayai Abu yazid mendatangi untuk mengujinya.

“Jelaskan padaku jawaban dari masalah ini,” katanya. Abu Yazid menangkap gelagat ketidak percayaan lelaki itu. Abu Yazid menjawab pertanyaan lelaki itu, “Di gunung itu ada sebuah gua, di gua itu ada seorang sahabatku, mintalah jawaban darinya.”

Lelaki itupun bergegas menuju gua yang dimaksud, disana ia melihat seekor naga yang sangat besar dan mengerikan. Seketika ia jatuh pingsan. Pada saat siuman. Ia burur-buru pergi dari mulut gua itu dan meninggalkan sepatunya yang terlepas disana. Ia kembali menemui Abu Yazid, bersimpuh dihadapannya dan bertobat.

Abu Yazid berkata kepada lelaki itu, “Engkau tidak mampu menjaga sepatumu, hanya karena rasa takutmu kepada makhluk. Lalu, dalam keterpesonaan kepada Allah, bagaimana engkau bisa menjaga “Penyingkapan” yang engkau cari dalam ketidakpercayaanmu?”

Ada seorang lelaki mendatangi kediaman Abu Yazid dan memanggilnya.

“Siapa yang engkau cari,” tanya Abu Yazid.

“Abu Yazid,” jawab lelaki itu.

“Lelaki yang malang!” kata Abu Yazid, aku telah mencari Abu Yazid selama 30 tahun, namun jejak dan tanda-tandanya pun tidak kutemukan.”

Kejadian ini dilaporkan kepada Dzun Nun. Ia berkomentar, “Allah mengasihi saudaraku Abu Yazid! Ia hilang ditemani oleh seorang yang hilang dalam Allah.”

Betapa sempurnanya peleburan diri Abu Yazid kepada Allah. Sampai-sampai setiap saat disapa oleh seorang muridnya yang selalu bersamanya selama 20 tahun, ia akan berkata, “Anakku, siapa namamu?”

“Guruku, anda mengolok-olokku, telah genap 20 tahun aku melayani guru, namun masih saja setiap hari guru menanyakan namaku,” kata si murid.

“Anakku,” jawab Abu Yazid, “Aku tidak mengolok-olokmu, namun nama-Nya telah menguasai hatiku, dan telah menghapus semua nama lain. Setiap nama yang baru aku ketahui, pasti segera hilang dari ingatanku, dan aku selalu dirasuki oleh keinginan, yaitu keinginanku adalah tidak memiliki keinginan.”

Saat menjelang ajalnya, ia menuju mihran dan mengenakan korset, ia mengenakan jubah dan penutup kepalanya secara terbalik.

Kemudian berkata:

“Ya Allah, aku tidak membesar-besarkan disiplin yang telah kujalani hampir seumur hidupku. Aku tidak memamerkan seluruh shalat malamku. Aku tidak menggembar-gemborkan puasa yang telah kulakukah hampir sepanjang hidupku. Aku tidak menghitung-hitung bacaan Qur’anku. Aku tidak membicarakan dan memamerkan pengalaman, doa-doa dan kedekatan spiritualku.

Engkau tahu bahwa aku tidak mengungkit-ungkit apapun, dan apa yang aku katakana sekarang ini tidaklah dimaksudkan untuk membesar-besarkannya, tidak juga karena aku tergantung padanya. Aku mengatakan semua ini karena aku malu atas apa yang telah aku lakukan. Engkau telah mengaruniaiku kemuliaan untuk melihat diriku sendiri mulia. Semuanya ini tidaklah berarti apa-apa, tiada bernilai.

Aku adalah seorang lelaki tua Turkistan berusia 70 tahun yang rambutnya telah memutih dalam kekafiran. Aku datang dari gurun Pasir sambil memekik, “Tangri… Tangri…” baru sekarang aku belajar mengatakan, “Allah… Allah…” baru sekarang aku merobek korsetku. Baru sekarang aku melangkahkan kakiku ke lingkaran Islam. Baru sekarang aku gerakkan lidahku untuk melafalkan kalimat syahadat.

Semua yang Engkau lakukan, Engkau lakukan tanpa sebab, penerimaan-Mu bukan disebabkan kepatuhan hamba-Mu, dan penolakan-Mu bukan disebabkan pembangkangan hamba-Mu. Semua yang kulakukan tiada lain hanyalah debu. Segala yang berasal dariku yang tidak membuat-Mu ridla, Engkau maafkan. Dan Engkau menghapus debu pembangkangan dari diriku, karena aku sendiri telah menghapus debu anggapan bahwa aku telah mematuhi-Mu.

Penuh Teka-teki

Abu Yazid juga mempunyai pandangan tersendiri tentang sufi. Katanya, “Sufi adalah seorang yang tangan kanannya memegang kitabullah, tangan kirinya memegang Sunah Rasul, salah satu matanya memandang ke Surga, mata yang lain melihat ke neraka. Ia mengenakan sarung dunia dan mantel akhirat sambil berseru, Labbaik ya Allah – Aku datang memenuhi panggilan-Mu.

Belakangan para ahli sangat terkesan terhadap penampilan Abu Yazid, sementara keperibadian dan ucapan-ucapannya penuh dengan teka-teki. Peneliti sufi asal Ingris, AJ.Arberry, menjulukinya sebagai First of the intoxicated sufis atau sufi pertama yang mabuk kepayang. Sedangkan Helmut Ritter, R.C. Zaehner dan RA. Nicolson menyatakan, Abu Yazid adalah orang yang paling paham tentang Fana. Bahkan sufi dan penyair besar Jalaluddin Rumi juga sangat mengaguminya.

Dalam puisi Matsnawi (kimpulan puisi) nya, Rumi menulis betapa suatu kali Abu Yazid diprotes oleh murid-muridnya, dengan mengatakan bahwa Abu Yazid Kafir. Mereka sempat menghunus pedang. Tetapi pedang itu malah berbalik menusuk para murid itu sendiri. Sementara filsuf dan pujangga Pakistan, Muhammad Iqbal, ketika menulis buku puisi Javid Nama, sangat terinspirasi oleh puisi Abu Yazid.

Peneliti sufi yang lain, Anemmare Schimmel, menulis, “Sebagai seorang sufi, ia menonjol sendirian di kancah pemikiran tasawuf Iran masa awal. Pemikirannya yang paradoksal menawarkan makna baru, namun tidak bisa sepenuhnya dipahami kecuali bila pembaca mampu berbagi dalam pengalaman mistik. Atau sebaliknya, pembaca malah berbalik menuduh sebaliknya, pembaca malah berbalik menuduh bahwa paham Abu Yazid tipuan belaka..”

Apa pun pengalaman mistikus Ba Yazid (panggilan akrab Abu Yazid), bahwa kepribadiannya telah mengilhami para sastrawan sufi di zama sesudahnya. Bahkan namanya sempat pula dipuja dalam berbagai puisi. Prestasi ini hanya bisa ditandingi oleh sufi bear lainnya seperti Al-Hallaj, yang kemiripan ajarannya sering dikaitkan dengan Ba Yazid. Cuma sayang, ia tidak meninggalkan karya tulis. Ajaran dan pandangannya hanya dapat dibaca pada catatan murid-muridnya, atau para sufi yang pernah berjumpa dengannya.

Begitu besar pengaruh pribadi dan ajaran Ba Yazid, sehingga sampai kini pun ia masih di puja orang. dan makamnya selalu ramai diziarahi. Abu Yazid al-Bisthami wafat pada tahun 875 M bertepatan dengan 261 H, dan dimakamkan di kampung halamannya, Bistham.

Tentang Manusia Sejati

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari Ba Yazid. Kisah-kisah yang unik banyak ditulis oleh para ulama klasik. Misalnya dalam kitab Tsabaqatush Shufiyah karya As-Sulami, Hilyatul Awliya, karya Abu Nu’aim, Kasyful Mahjub, karya Al-Hujwiri, Kitabul al-Luma, karya As-Sarraj atau Tadzkirul Awliya, karya Fariduddin Aththar.

Berikut beberapa cerita tentang Abu Yazid, suatu hari Dzun Nun al-Misri mengirimkan selembar sajadah kepada Abu Yazid, tetapi Abu Yazid mengembalikannya, sambil berpesan, “Apa perlunya selembar sejadah? Kirimkan saja sebuah bantal untuk bersandar.” Maksudnya, ingin mengatakan sudah berhasil mencapai tujuan. Maka, Dzun Nun pun mengirimkan sebuah bantal. Tetapi bantal itu pun dikembalikan, karena ia telah bertobat dan tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. “Manusia yang berbantalkan karunia dan kasih Allah tidak membutuhkan bantal dari salah seorang diantara hambanya,” kata Ba Yazid.

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan disebuah pekuburan, suatu malam ketika pulang dari makam, ia berpapasan dengan seorang pemuda yang memainkan kecapi. “Semoga Allah melindungi kita!” kata Abu Yazid. Mendengar itu si pemuda memukulkan kecapi kekepala Abu Yazid dengan keras. Ternyata pemuda itu tengah mabuk. Dengan bercucuran darah Abu Yazid pulang.

Ketika hari telah siang, dipanggilnya salah seorang muridnya, “Berapakah harga sebuah Kecapi?” tanyanya. Si murid memberitahukan harganya, dengan secarik kain dibungkusnya sejumlah uang ditambah beberapa kue lalu dikirimkannya kepada si pemuda. “Sampaikanlah kepadanya, Abu Yazid minta maaf. Katakan pula, tadi malam ia menyerang Abu Yazid dengan Kecapinya sehingga kecapi itu pecah. Sebagai gantinya terimalah uang  ini dan belilah kecapi baru. Sedangkan kue-kue yang manis untuk penawar duka hatimu karena kecapimu pecah.” Ketika si pemuda itu menyadari perbuatannya, bersama pemuda-pemuda lain ia menemui Abu Yazid untuk minta maaf.

Hanya kepada Allah

dzikirSuatu saat, Abu Yazid bercerita, Ketika aku sedang duduk, datanglah sebuah lamunan, bahwa aku adalah Syekh dan tokoh suci zaman ini. Tapi begitu hal itu terdengar dalam benak, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar.lalu aku bangkit dan berangkat ke Khurasan, di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat sebelum Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku. Tiga hari tiga malam aku tinggal di sana. Pada hari keempat aku lihat seseorang yang bermata satu yang menunggang seekor unta datang kepadaku. Aku lihat kebesaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar Unta berhenti, unta itu pun menekuk kakinya di depanku, dan lelaki bermata satu itu memandangku.

“Sejauh ini kau memanggilku hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci, serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?” katanya kepadaku.

Aku jatuh lunglai, kemudian bertanya kepada orang itu, “Darimanakah engkau?”

“Sejak engkau bersumpah itu, telah beribu-ribu mil jarak aku tempuh. Berhati-hatilah, Abu Yazid, jagalah hatimu!” ia lalu berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.

Suatu malam Abu Yazid merasa shalatnya tidak khusuk. Maka katanya, “Carilah kalau-kalau ada barang-barang berhaga di rumah ini,” murid-muridnya pun mencari-cari di seantero rumah, lalu menemukan setengah tandan anggur, “Bawalah anggur itu, dan berikanlah kepada orang lain, rumahku bukan toko buah-buahan,” kata Abu Yazid. Setelah itu barulah ia dapat melakukan salat dengan khusuk.

Pada suatu hari beberapa orang bertanya kepada Abu Yazid, “Engkau dapat berjalan di atas air?” Abu Yazid pun menjawab, Sepotong kayu juga dapat melakukannya.”

Mereka bertanya lagi, “Engkau dapat pergi ke Mekkah dalam semalam?” maka jawab Abu Yazid,setiap orang sakit dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam.”

Merasa penasaran, mereka bertanya lagi, “Jika demikian, apakah yang dilakukan oleh manusia sejati?” Abu Yazid menjawab. “Manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah.”

Link Lengkap Kisah Abu Yazid

Abu Yazid Al-Bisthami, Mabuk Kepayang Karena Allah (Bagian 1)
Abu Yazid Al-Bisthami, Mi’rajnya Abu Yazid (Bagian 2)
Abu Yazid Al-Bisthami, Tentang Manusia Sejati (Bagian 3)

Referensi Alkisah Nomor 04 / 16-29 Februari 2004

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY