Abu Yazid Al-Bisthami, Mi’rajnya Abu Yazid (Bagian 2)

Suatu kali Abu Yazid bepergian dengan membawa seekor unta. Ia menaruh pelana dan perbekalannya di punggung unta itu.

 “Unta kecil yang malang, sungguh berat beban yang dibawanya,” pekik seseorang, “Sungguh kejam.”

Mendengar orang itu berkata demikian terus-menerus, Abu Yazid akhirnya menjawab, “Anak muda, bukan unta kecil ini yang membawa beban.”

Anak muda itu melihat punggung unta Abu Yazid. Ia melihat bahwa perbekalan Abu Yazid melayang di atas punggung unta itu, dan unta itu tidak terbebani sedikit pun.

“Kemuliaan atas Allah, sungguh menakjubkan!” teriak anak muda itu.

“Jika aku menyembunyikan kebenaran tentang diriku, engkau mencela,” kata Abu Yazid. “Namun jika aku memperlihatkannya, engkau tidak mampu memikulnya, lantas aku harus bagaimana?”

Mi’rajnya Abu Yazid

Ia mengisahkan tentang Mi’rajnya sebagai berikut:

Aku memandang Allah dengan mata keyakinan setelah Dia mengangkatku ke derajat kemerdekaan dari semua makhluk dan Dia memberikan pencerahan kepadaku dengan cahaya-Nya, menyingkapkan rahasia-rahasia-Nya yang menakjubkan dan memanifestasikan kebesaran ke-Dia-an-Nya. Aku memandang diriku sendiri, dan merenungkan dalam-dalam rahasia-rahasia dan sifat-sifatku. Cahayaku adalah kegelapan di sisi cahaya-Nya. Kebesaranku menyusut menjadi keburukan di sisi kebesaran-Nya. Kemuliayaanku hanyalah kesombongan disisi kemuliaan-Nya. Milik-Nya lah segala kesucian, dan milikku lah segala kekotoran.

Saat aku memandang lagi, aku melihat keberadaanku berasal dari cahaya-Nya. Aku sadar bahwa kebesaran dan kemuliaanku berasal dari kebesaran dan kemuliaan-Nya. Apa saja yang aku lakukan, aku lakukan dengan kemampuan yang berasal dari kemahakuasaan-Nya. Apapun yang dilihat oleh mata tubuh fisikku, dilihat melalui-Nya. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Semua ibadahku merupakan karunia-Nya, bukan dariku, namun aku menyangka bahwa akulah yang menyembah-Nya.

Aku merenung, “ Ya Allah, apa ini?”

Dia berkata, “Aku, dan bukan selain-Ku.”

Lalu Dia menjahit mataku, agar tidak menjadi alat untuk melihat, agar aku tidak melihat. Kemudian Dia mengajarkan pokok permasalahan, yakni ke-Dia-an-Nya pada pandangan mataku. Dia mencerabut aku dari keberadaanku, dan membuatku abadi melalui keabadian-Nya. Dia menyingkapkan ke-Esa-an-Nya, tak terdesak oleh keberadaanku.

Di sana aku terdiam sejenak, aku menemukan ketenangan. Aku menutup telinga penentangan, aku menarik lidah hasrat ke dalam tenggorok kekecewaan. Aku mengabaikan pengetahuan yang dipelajari, dan mengenyahkan campur tangan jiwa yang mengajak kepada keburukan. Aku tetap diam sejenak, tanpa alat dan perantara apapun, dan dengan tangan kesucian-Nya aku menyapu bid’ah dari jalan-jalan akar prinsip-prinsip.

Allah mengasihiku, Dia menganugrahiku pengetahuan hakiki, dan memasang lidah kebaikan-Nya kedalam tenggorokanku. Dia menciptakan mataku dari cahaya-Nya, maka aku melihat semua makhluk melalui-Nya. Dengan lidah kebaikan-Nya aku berkomunikasi dengan-Nya, dari pengetahuan-Nya aku memperoleh pengetahuan, dan dengan cahaya-Nya aku memandang-Nya.

Dia berkata, “Wahai engkau yang semua tanpa semua maupun dengan semua, tanpa kelengkapan maupun dengan kelengkapan!”

Aku berkata, “Ya Allah, jangan biarkan aku terpedaya oleh hal ini, jangan biarkan aku berpuas diri dengan keberadaanku, tidak merindukan-Mu. Lebih baik Engkau menjadi milikku tanpaku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa-Mu. Lebih baik aku berbicara pada-Mu melalui-Mu, daripada aku berbicara pada diriku sendiri tanpa-Mu.”

Aku berkata, “Aku telah menyatakan keimananku dan hatiku percaya dengan teguh.”Dia memberi pencerahan padaku, dan menghantarkanku keluar dari kegelapan jiwa jasmani dan pelanggaran-pelanggaran watak badaniah. Aku sadar bahwa melalui-Nya lah aku hidup, dank arena karunia-Nya aku dapat menghamparkan permadani kebahagiaan dalam hatiku.

Aku mengatakan, “Aku menginginkan-Mu, karena Engkau lebih baik daripada karunia, lebih besar daripada kedermawanan, dan melalui-Mu aku telah menemukan kepuasan dalam diri-Mu. Jkarena Engkau milikku, aku telah menggulung lembaran karunia dan kedermawanan. Jangan cegah aku dari-Mu, dan jangan tawarkan aku apa yang rendah di hadapan-Mu.”

Melihat kelemahan dan kebodohanku, Dia memperkuatku dengan kekuatan-Nya dan menghiasiku dengan perhiasan-Nya.

Dia menyematkan mahkota kemurahan hati di kepalaku, dan membukakan pintu istana ke-Esa-an bagiku. Ketika Dia melihat bahwa sifat-sifatku menjadi hampa di hadapan-Nya, Dia menganugerahiku sebuah nama dari kehadiran-Nya, dan memanggilku dengan ke-Esa-an-Nya.

Lalu Dia membuatku merasakan tikaman kecemburuan dan membangkitkanku lagi. Aku bangkit dalam kesucian dari tungku ujian. Dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa bila tanpa kasih saying-Nya, semua makhluk ini tidak akan pernah menemukan ketenangan, dan bahwa bila tidak karena cinta-Nya, niscaya kemahakuasaan-Nya dapat menimbulkan kerusakan pada segala hal.

Aku menncari dalam padang belantara yang luas, tak ada permainan yang aku lihat yang lebih baik daripada kefakiran yang amat sangat, tak ada sesuatu yang aku ketahui yang lebih baik daripada ketidakmampuan absolut. Tak ada lampu yang aku lihat lebih terang daripada diam, dan tak ada kata-kata yang aku dengar yang lebih baik daripada kebungkaman. Aku menjadi penghuni istana kesunyian, aku mengenakan pakaian ketabahan, hingga segala persoalan mencapai inti mereka.

Dia membuka celah kelegaan dalam dadaku yang kelam, dan memberiku lidah kebebasan dan penyatuan. Maka kini aki memiliki lidah, hati dan mata karya Ilahi. Dengan pertolongan-Nya aku bicara, dengan kekuatan-Nya aku menggenggam.

Lidahku adalah lidah penyatuan, jiwaku adalah jiwa pembebasan. Bukanlah dariku aku bicara, aku hanya penyampai belaka, juga bukan melaluiku aku bicara, aku hanya pengingat belaka. Dia menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya. Aku tiada lain hanya penerjemah belaka. Kenyataannya, Dialah yang berbicara, bukan aku.

 “Aku tidak ingin melihat makhluk-Mu, namun jika Engkau berkehendak untuk menghadirkanku dihadapan para makhluk-Mu, aku tidak akan menentang-Mu, letakkan aku dalam ke-Esa-an-Mu, sehingga ketika makhluk-makhluk-Mu melihatku dan memandang karya-Mu, mereka akan melihat yang mencipta, dan aku tidak berada disana sama sekali”

Dia mengabulkan permohonanku, dan menyemaikan mahkota kemurahan hati dikepalaku, dan membuatku melampaui maqam watak badaniahku.

Ia juga mengisahkan: ketika aku mencapai penyatuan, adan itulah saat pertama kali aku merasakan yang Esa, selama bertahun-tahun aku berlari dalam lembah itu dengan kaki pemahaman, hingga aku menjadi seekor burung yang tubuhnya adalah ketunggalan, yang sayapnya adalah.keabadian, aku terus terbang ke cakrawala ke-tanpasyarat-an. Saat aku telah lenyap dari segala yang diciptakan.

“Ya Allah, apapun yang telah aku lihat, segalanya aku.tiada jalan bagiku menuju-Mu, selama masih ada “aku” yang tersisa, tak ada pelampauan kedirianku bagiku. Apa yang harus aku lakukan?”

Untuk menghilangkan ke-Aku-anmu, ikutilah kekasih-Ku, Muhammad saw, urapi matamu dengan debu kakinya, dan teruslah mengikutinya.”

***

Yahya bin Mu’adz mengatakan dalam suratnya kepada Abu Yazid, “Apa pendapatmu tentang seorang yang telah meminum segelas anggur, dan menjadi mabuk dari sartu keabadian ke keabadian lannya?”

Abu Yazid membalas suratnya, “Aku tidak tahu tentang hal itu, yang kutahu, ini adalah seorang yang seharian penuh, siang dan malam, menguras seluruh lautan dari satu keabadian ke keabadian lainnya dan meminta lagi.”

Yahya bin mu’adz menulis lagi, “Aku punya satu rahasia. Surga adalah tempat pertemuan kita, di sana, di bawah naungan pohon Tuba, aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Bersama dengan suratnya, Yahya juga mengirimkan sepotong roti yang bertuliskan: |Seorang guru spiritual harus mengambil manfaat roti ini, karena adonannya aku campur dengan air zamzam.”

Dalam surat balasannya, Abu yazid berkata, “Mengenai tempat pertemuan yang engkau sebutkan, dengan perhatian-Nya padaku, bahkan sekarang aku tengah menikmati surga dan naungan pohon Tuba. Sedangkan mengenai rotimu, aku tidak dapat memakannya, engkau telah mengatakan dengan air apa engkau mengadoninya, namun engkau tidak mengatakan benih apa yang engkau taburkan.”

Akhirnya Yahya memendam kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Abu Yazid. Lalu ia datang berkunjung dan tiba pada waktu salat malam (magrib dan isya’).

“Aku tidak boleh mengganggu sang syekh,” kata Yahya dalam hati. “Namun aku juga tidak dapat menahan kerinduanku hingga pagi. Kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju padang pasir dimana Abu yazid berada, sebagaimana dikatakan orang-orang kepadaku. Aku melihat sang syekh mendirikan shalat malam, kemudian hingga keesokan harinya ia berdiri di ujung jari-jari kakinya. Aku berdiri mematung diliputi rasa kagum, dan sepanjang malam aku mendengar ia sibuk berdoa. Saat fajar tiba, ia berujar, “Aku berlindung pada-Mu dari meinta maqam ini kepada-Mu.”

Lalu Yahya memulihkan dirinya dari kekagumannya, dan memberi salam kepada Abu Yazid, kemudian bertanya tentang apa yang telah terjadi padanya semalam.

“Lebih dari 20 maqam disebutkan satu persatu kepadaku,” jawab Abu yazid. “Namun aku tidak menginginkan satu pun, karena semua maqam itu adalah maqam penghijaban.”

“Wahai syekh, mengapa anda tidak meminta makrifat kepada Allah, karena Dia adalah raja dari segala raja dan telah berfirman, “Mintalah apa saja yang kalian kehendaki?”

“Diamlah,” tujas Abu Yazid. “Aku cemburu kepada diriku sendiri karena mengenal-Nya, sebab aku ingin tidak seorangpun mengenal-Nya kecuali Dia. Dimana pengetahuan-Nya, apa urusanku, sehingga aku harus campur tangan? Wahai Yahya, sudah merupakan kehendak-Nya bahwa hanya Dia, dan tidak selain-Nya, yang mampu mengenal-Nya.”

“Demi keagungan Allah,” tutur Yahya, “Berilah aku sedikit saja karunia yang engkau dapatkan semalam.”

Abu Yazid mengatakan, “Jika engkau diberi keterpilihan Adam, kekudusan Jibril, persahabatan Ibrahim, kerinduan Musa, kesucian Isa, dan cintanya Rasulullah Muhammad saw, niscaya engkau mesih belum puas juga. Engkau akan terus mencari lebih, melampaui segala hal. Tetapkan pandanganmu ke atas, dan jangan pernah turun, karena apapun yang engkau turun kepadanya, dengannyalah engkau terhijabi.”

***

sufiDiriwayatkan, ada seorang Asket yang merupakan seorang wali besar Kota Bistham. Ia memiliki banyak murid dan pengagum, namun ia mesih selalu menghadiri majelis Abu Yazid. Ia menyimak semua perkataan Abu Yazid, dan duduk bersama para murid Abu Yazid.

Suatu hari ia berkata kepada Abu Yazid, “Wahai syekh, hari ini telah genap 30 tahun aku berpuasa. Di malam hari aku berpuasa dan mendirikan shalat malam, jadi aku tidak pernah tidur sama sekali. Namun tetap saja aku tidak menemukan dalam diriku jejak pengetahuan yang engkau miliki. Aku meyakini pengetahuan ini, dan aku mencintai pengajaran ini.”

Abu Yazid berkata, seandainya selama 300 tahun engkau berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, niscaya engkau tetap tidak akan pernah memahami walau hanya secuil dari pengetahuan ini.”

“Mengapa,” tanya si murid Abu Yazid itu.

“Karena engkau terhijab oleh dirimu sendiri,” jawab Abu Yazid.

“Lalu apa obatnya?” Tanya lelaki itu.

“Engkau takkan pernah menerimanya,” jawab Abu Yazid.

“Aku akan menerimanya,” tukas lelaki itu. “Katakanlah padaku, agar aku dapat melakukan apa yang engkau resepkan.”

“Baiklah,” kata Abu Yazid. “Saat ini juga, pergi dan cukurlah janggut serta rambutmu. Tanggalkanlah pakaian yang engkau kenakan kini, dan pakailah celana wol sebatas pinggangmu, gantungkan sekantong kacang di lehermu, kemudian pergilah ke pasar. Kumpulkanlah anak-anak sebanyak yang engkau mampu, katakana pada mereka, “Aku akan memberikan kacang kepada siapa saja yang mau menamparku,” lalu pergilah ke seluruh penjuru kota dan lakukanlah hal yang sama, terutama pergilah ke tempat-tempat dimana orang-orang mengenalmu. Itulah obat bagimu.”

Kemuliaan atas Allah !, tiada Tuhan selain Allah!” pekik  lelaki itu mendengar penjelasan Abu Yazid.

“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu, maka ia menjadi seorang muslim,” tukas Abu Yazid. “Namun dengan mengucapkan kata-kata yang sama, engkau telah menjadi seorang polities.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanya lelaki itu.

“Karena engkau menganggap dirimu terlalu besar untuk melakukan apa yang telah aku katakana,” jawab Abu Yazid. “Maka dengan begitu engkau telah menjadi seorang polities. Engkau menggunakan kalimat tadi untuk mengungkapkan kebesaran dirimu, bukan untuk memuliakan Allah.”

“Aku tak dapat melakukannya,” protes lelaki itu, “Berilah aku petunjuk yang lain.”

“Obatnya adalah apa yang telah aku katakana,” tukas Abu Yazid.

Aku tak dapat melakukannya,” kata lelaki itu.

“Bukanlah telah aku katakana bahwa engkau tidak akan mau melakukannya, bahwa engkau tidak akan pernah mematuhiku,” tutur Abu Yazid.

***

LANJUTAN …

Abu Yazid Al-Bisthami, Mabuk Kepayang Karena Allah (Bagian 1)
Abu Yazid Al-Bisthami, Mi’rajnya Abu Yazid (Bagian 2)
Abu Yazid Al-Bisthami, Tentang Manusia Sejati (Bagian 3)

2 responses to “Abu Yazid Al-Bisthami, Mi’rajnya Abu Yazid (Bagian 2)”

  1. Abu Yazid Al-Bisthami, Mabuk Kepayang Karena Allah (Bagian 1)

    [...] Yazid Al-Bisthami, Mabuk Kepayang Karena Allah (Bagian 1) Abu Yazid Al-Bisthami, Mi’rajnya Abu Yazid (Bagian 2) Abu Yazid Al-Bisthami, Tentang Manusia Sejati (Bagian [...]

  2. Abu Yazid Al-Bisthami, tentang Manusia Sejati (Bagian 3)

    [...] kali Abu Yazid tiba di pintu sebuah masjid, ia akan berdiri sejenak dan [...]

Leave a Reply