Ia adalah seorang ulama besar Aceh, berkat pergaulannya yang luas, lahirlah jaringan ulama Indonesia dan internasional

Namanya jarang terdengar, padahal dalam khasanah intelektual Islam di abad XII, dia salah seorang pioner. Ia bahkan disejajarkan dengan tiga ulama terkemukan di Aceh. Syamsuddin as-Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri. Abdurrauf termasuk ulama langka yang karya-karyanya masih banyak diperbincangkan sampai sekarang. Ia lahir di Sinkil, ujung selatan pantai barat Aceh (kini Nangroe Ace Darussalam) sekitar tahun 16151 M / 1035 H.

Nama lengkapnya Abdurrauf bin Ali Fansuri

sheikh_abdul_rauf_singkilIa lahir dimasa kejayaan kesultanan Aceh di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Ketika itulah banyak pemuda Aceh yang belajar ke Mekah, termasuk Abdurrauf. Tentu saja sekalian menunaikan ibadah haji. Disepanjang perjalanan ia menyempatkan diri untuk berguru kepada beberapa ulama di Yaman, Oman, Qatar dan Jazirah Arab sendiri.

Di bagian akhir kitab umdat al-Muhtajin yang ditulisnya, ia mencatat berbagai tempat di Yaman yang disinggahinya sebelum sampai di Mekah: Zabid, Mukha, Tavy, Bait al-Faqih, Mauza, bukan sekedar singgah, ia juga belajar agama kepada beberapa ulama setempat. Dari Mauza’ ia meneruskan perjalanan ke Dukha di Qatar, lalu ke Jeddah, mekah dan Madinah. Ia tiba di Mekah pada tahun 1015 M. seperti halnya kebiasaan para ulama yang lain, sambil beribadah ia pun menuntut ilmu.

Belasan Tahun Berkelana

Ia belajar berbagai ilmu agama, mulai seni membaca Al-Qur’an sampai tasawuf. Ia belajar seni baca Al-Qur’an kepada Syekh Abdullah al-Adani di Zabin, Yaman. Selanjutnya ia belajar ilmu fikih kepada Syekh Ibrahin bin Abdullah Jam’an di Bait al-Faqih dan Mauza, lewat Syekh Ibrahim, ia berkenalan dengan ulama sufi Syekh Ahmad al-Qusyairi yang kelak sangat berpengaruh dalam hidupnya. Ia juga berguru kepada Ibrahim al-Kurani, Muhammad al-Babili, ahli hadis terkemuka dari Mesir, dan Syekh Muhammad al-Barzanji, sufi besar dari Anatolia, Turki.

Tak kurang dari 17 ulama besar dan 25 sufi telah ia temui selama 19 tahun berkelana. Sebenarnya ia telah meninggalkan pesan bahwa ia telah penuntut ilmu yang sungguh-sungguh. Karenanya, integritas keulamaannya tidak perlu diragukan. Setelah merasa cukup pada tahun 1662 M ia pun pulang kampung, dan mulailah ia mengajar dan berdakwah. Salah satu ajaran tarekat yang ia ajarkan ialah tarekat Syatariyah, yang ia kaji dari Syekh Qusyairi dan Ibrahim Kurani. Dari merekalah ia memperoleh Khirqah yaitu ijazah kelulusan dalam mengamalkan Suluk atau wirid berupa selendang putih. Maka ketika bermukim di Mekah , ia segera dikenal sebagai ulama tarekat Syatariyah. Tarekat ini didirikan oleh Syekh Abdullah as-Syatari wafat 1428).

Belakangan Abdurrauf dikenal sebagai ulama besar yang masyhur. Beberapa santri yang berguru kepadanya tumbuh menjadi ulama besar pula, seperti Syekh Yusuf al-Makasari (Makasar) dan Syekh Burhanuddin Ulakan (Padang) Abdullah Muhyi al-Jawi (Tasikmalaya). Syekh Yusuf adalah ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang namanya mendunia. Ketika di buang oleh Belanda ke Afrika Selatan, ia tampil sebagai muballig sehingga belakangan menjadi tokoh yang sangat dihormati di negeri hitam tersebut.

Adapun Syekh Burhanuddin Ulakan adalah tokoh panutan di Sumatera Barat dan Aceh, yang berhasil mengkombinasikan tarekat dengan Mazhab Syafi’i, dan menjadi khalifah utama bagi semua khalifah Tarekat Syatariyah di wilayah Sumatera Barat pada periode berikutnya. Sementara Syekh Abdul Muhyi menjadi salah satu mata rantai utama bagi terhubungkannya silsilah tarekat Syatariyah di wilayah Jawa Barat khususnya dan Jawa pada umumnya.

Dari beberapa sumber disebutkan, Abdurrauf al-Sinkili mempunyai seorang murid terkemuka lain di wilayah semananjung Melayu, yakni, Abdul Malik bin Abdullah yang lebih di kenal sebagai Toh Pulau Manis dari Trengganu.

Muridnya yang lain, Tengku Daud al-Jawi Al-Rumi, adalah khalifah utama dalam Tarekat Syatariyah. Dia bersama As-Sinkili mendirikan sebuah Deuyah, semacam lembaga pendidikan tradisional di Aceh, dan menulis beberapa buku. Tengku Daud berasal dari Aceh Kota, tepatnya Peunayong. Selain sebagai murid dalam tarekat Syatariyah, dia juga menjadi sekretaris As-Sinkili.

Dia bertugas menulis karya-karya As-Sinkili. Karena tugasnya ini, ia mendapat julukan Baba Daud. Kata “Baba” diambil dari bahasa Arab, “Bab”, yang artinya “Pintu”. Maksudnya, Tengku Daud adalah pintu pengetahuan, sedangkan pengetahuannya adalah As-Sinkili sendiri. Setelah meninggal, Tengku Daud tidak dimakamkan di Kuala bersama As-Sinkili, tapi di tempat asalnya Peunayong.

Dikenal di Luar Negeri

Syekh Abdurrauf selalu menjalin silaturrahmi dengan guru-gurunya, terutama dengan Syekh Ibrahim Kurani. Sepanjang catatan Dr. Azumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, Abdurrauf berperan penting dalam menghubungkan jaringan ulama di timur Tengah dengan ulama Indonesia. Bersama dengan Syekh Yusuf, salah seorang muridnya yang utama, ia berhasil membantu ulama muda yang berbakat untuk mencapai tujuan dalam mengubah tatanan masyarakat Islam Indonesia.

Jaringan ulama itu melibatkan para ulama Melayu, Jawa, Sulawesi Kalimantan. Ikut serta dalam jaringan tersebut beberapa ulama generasi yang agak muda seperti Syekh Nawawi al-Bantani (Banten), Syekh Arsyad al-Banjari (Banjar), Syekh Yasin al-Padani (Padang). Berkat jaringan tersebut para ulama dari Nusantara dikenal oleh komunitas muslim di luar negeri. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian menjadi guru besar di Timur Tengah.

Dampak positif upaya Abdurrauf membangun jaringan ulama itu bisa dilihat dari banyaknya santri dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui murid-muridnya, Abdurrauf menyebarkan tarekat Syatariyah, tidak terbatas di Aceh, tapi juga sampai ke Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa, Sulawesi. Selain mengajar di Kuala atau Muarakarang, kini Banda Aceh, ia juga menjabat sebagai Mufti Besar Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sulthanah Safiyatuddin (1641-1675). Abdurrauf wafat pada tahun 1693 M, dimakamkan di Kuala yang kemudian dikenal sebagai Syah Kuala.

Tafsir Pertama di Indonesia

Abdurrauf as-Sinkili adalah ulama dan penulis yang produktif karya-karyanya masih dikaji dan menjadi rujukan di beberapa pesantren di Nusantara, bahkan juga di beberapa pesantren di Muangthai dan Filipina bagian Selatan. Tentang kitab-kitab Abdurrauf, Dr. Azumardi Azra menulis dalam buku jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara sebagai berikut:

Abdurrauf sadar sepenuhnya akan bahaya konsep metafisika bagi kaum awam. Dalam pandangannya, konsep metafisika semacam itu dapat menggiring kaum awam menyimpang dari jalur Islam yang benar sebagaimana dirumuskan dalam Syariat. Dalam hal ini ia sependapat dengan Imam Ghazali yang mengatakan bahwa tasawuf boleh diajarkan hanya kepada kaum khawas (orang-orang tertentu). Namun dalam perkembangannya lebih lanjut, tasawuf tidak bisa dibatasi pada kaum khawas belaka.

Tulisan Abdurrauf tentang tasawuf kebanyakan menjelaskan perihal pentingnya Syariat bagi para sufi. Memang karangannya dalam bidang tasawuf merupakan reaksi atas ajaran Wahdatul Wujud yang dikembangkan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani kala itu.

Dari 21 kitab yang dikarangnya, sebuah diantaranya adalah tafsir Al-Qur’an. Kitab tafsir berjudul: Turjuman al-Mustafid yang banyak mengambil bahan dari Tafsir Jalalain, karya Jalaluddin as-Suyuthi itu merupakan kitab tafsir Al-Qur’an yang pertama dalam kepustakaan di Indonesia. Sementara kitab fikihnya, Mirat at-Thullab, membicarakan beberapa persolan ibadah dan Muamalah. Kitab ini merupakan saduran dari kitabFathul Wahab, karya Syekh Zakaria al-Anshori, pemikir mazhab Syafi’i , yang dipadu dengan beberapa gagasan dari sumber-sumber lain.

Memfanakan Makhluk

Adapun kitab-kitab tasawufnya, Umdat al-Muhtajin, Daqaiq al-huruf, Kifayah al-Muhtajin, dan Bayan Tajalli. Dalam kitab-kitab itu ia membeberkan beberapa gagasannya tentang tasawuf yang membuat namanya masyhur sampai sekarang. Ia juga menjelaskan perbedaan pemikirannya dengan Syekh Samsuddin as-Sumatrani, dan Hamzah Fansuri. Menurutnya satu-satunya wujud hakiki adalah Allah, sedangkan ciptaan-Nya adalah wujud bayangan dari wujud hakiki.

Dengan kata lain ia hendak menegaskan bahwa Allah adalah berbeda dari Alam, begitu pula sebaliknya. Allah menampakkan dirinya atau bertajalli secara tidak langsung. Pada munusia sifat-sifat Allah secara tidak langsung menampakkan diri secara lebih sempurna, dan relatif paling sempurna pada Insan Kamil (manusia sempurna, manusia yang sudah mencapai derajat tertinggi dalam kesufian). Adapun tujuan tarekat Syatariyah tiada lain memfanakan apa saja selain Allah SWT dari kesadaran batin manusia melalui berbagai dzikir.

Sumber kisah Alkisah Nomor 08 / 12-25 April 2004

Gambar https://pangutangans.files.wordpress.com/2011/05/sheikh_abdul_rauf_singkil.jpg

5 COMMENTS

  1. Alhamdulillah sudah berziarah ke makam beliau di aceh singkil smoga mendapat tempat terbaik disisi Allah…

LEAVE A REPLY