By admin on January 29, 2010
“Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.” Continue reading “Abu Nawas dan Harimau Berjenggot”
Posted in Kisah Abu Nawas | Tagged Abu Nawas, Khalifah Harun Al-Rasyid
By admin on January 24, 2010
As-Sulami adalah sufi produktif di zamannya, karya-karyanya menjadi rujukan sufi besar sesudahnya.
Namanya tidak mungkin terlupakan dalam perkembangan tasawuf, betapa tidak, ia rajin dan produktif menuliskan gagasan-gagasannya tentang Ketuhanan. Sampai kini pemikirannya masih relevan dan sering digunakan oleh kalangan sufi sebagai rujukan. Selain itu, As-Sulami juga berhasil menciptakan terobosan baru dalam mistisisme Islam.
Nama lengkapnya Abu Abdurrahman bin Al-Hussain bin Muhammad bin Musa As-Sulami Al-Azdi. Ia lahir di Khurasan, Iran, pada tahun 325 H / 937 M dalam sebuah keluarga yang sangat taat bergama. Bahkan kedua orang tuanya di kenal sebagai ulama dan Sufi yang masyhur di Khurasan. Suasana serba religius di dalam rumah inilah yang mempengaruhi As-Sulami di kemudian hari. Ketika ia berusia 15 tahun, ayahnya meninggal. Ia kemudian diasuh oleh nenek dari pihak ibunya. Continue reading “As-Sulami, Sufi yang Produktif sebagai Penulis”
Posted in Jejak Sufi | Tagged Abdul Ghafir Al-Farisi, Abu Abdillah Al-Qasim ibn Al-Fadl ibn Ahmad Al-Thaqafi Al-Jubari, Abu Abdurrahman bin Al-Hussain bin Muhammad bin Musa As-Sulami Al-Azdi, Abu bakar Ahmad ibn Ali ibn Abdillah Al-Shirazi, Abu Bakr Muhammad ibn Yahya ibn Ibrahim Al-Muzakk, Abu Hamid Ahmad ibn Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi, Abu Muhammad al-Juwaini, Abu Said Abu Ramish, Abu Saleh Al-Muadhdhin, Adab al-Sufiyya, Adab Al-Suhba wa Husn al-Ushra, Adab As-Sufiyya, Ahmad ibn Muhammad ibn Abd. Al-Wahid Al-Wakil Al-Munkadiri, Al-Arbain fi al-Hadis, Al-Farq Bayn al-Syaria wal Haqiqa, Al-Futuwwa, Al-Ikhwah wal Akhwa min al-Sufiyya, al-Istishadat, al-Malamatiyya, Al-Muqaddimah fi at-Tasawuf wa Haqiqatih al-Radd ‘ala ahl al-Kalam, Al-Qadi Ahmad ibn Ali ibn Al-Husyain Al-Tawwazi, Al-Sama, Al-Sualat Suluk al-Arifin, Amthal al-Qur’an, As-Sulami, Bayan fi Al-Sufiyya, Darajat al-Muamalat, Darajat As-Shiddiqin, Ghalatat al-Sufiyya, Imam Al-Bayhaqi, Imam Al-Hakim, Imam Al-Qusyairi, Juwami, Manahij al-Arifin, Maqamat al-Awliya, Masail Waradat min Makkah, Mihan Al-Sufiyya, pengarang kitab Al-Mustadrak, pengarang kitab Al-Risalah Qusyairiyah, Sunnah al-Sufiyya
By admin on January 22, 2010
Sebelum dikenal sebagai Wali, Mbah Kiai Musyafa’ dianggap orang Gila. Namun kemudian banyak orang yang menemukan Karomahnya. Karena itu, setelah dia meninggal, makamnya kerap didatangi peziarah.
Kota Kaliwungu, tepatnya di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah, tampak sangat anggun bila dilihat dari bukit yang terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu. Masjid Al-Muttaqin yang berada di pusat kota terlihat sangat dominan dan lebih besar dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya. Menara dan kubah masjid tampak sangat kukuh, seperti menegaskan betapa Allah SWT Mahabesar. Continue reading “Mbah Kyai Musyafa’ Orang “Gila” yang Penuh Karomah”
Posted in Jejak Wali | Tagged Desa Proto Mulyo, Kaliwungu, Kampung Gadukan, Kutoarjo, Masjid Al-Muttaqin, Mbah Kyai Musyafa, Mbah Syafa
By admin on January 20, 2010
Ia dikenal sebagai pelindung rakyat, ulama dan Waliyullah. Makamnya yang selalu penuh oleh para peziarah, harum semerbak setiap hari.
Kaum muslimin di Gorontalo, Sulawesi, niscaya tidak ada yang tidak kenal nama Ju Panggola. Ia adalah seorang Ulama, Pejuang dan Waliyullah yang masyhur di abad ke 16. Pendek kata Ju Panggola adalah tokoh kharismatik yang makamnya dikeramatkan, dan sampai sekarang selalu diziarahi banyak orang. Sebagai penghormatan, makam Ju Panggola dibangun di balik mihrab Masjid Quba – sebuah masjid mungil, di puncak sebuah bukit dengan panorama yang indah di sekitarnya. Continue reading “Ju Panggola, Pejuang dan Wali Gorontalo”
Posted in Jejak Wali | Tagged Ilato, Ju Panggola, Ta Lo’o Baya Lipu
By admin on January 6, 2010
Kekuasaannya membentang dari pantai Pasifik di Timur hingga ke pinggir Sungai Don di Barat Ia disebut-sebut lebih unggul ketimbang Jengis Khan
Adalah seorang penakluk yang dianggap terbesar dalam sejarah. Dialah Timur Leng (1336-1405 M), yang juga mendapat julukan “Tamerlane”, sang penakluk dunia. Selain Jengis Jhan, dialah satu-satunya penakluk yang mampu menjelajahi daratan sangat luas, mulai dari Pantai pasifik di Timur hingga ke pinggir Sungai Don di Barat. Penaklukan dahsyat yang ia lakukan berhasil melumpuhkan dua Raja besar pada zamannya, Sultan Turki, Bayazid Yiddrim, dan Kaisar Mongol, Toktamish. Yang juga adalah cucu Jengis Khan.
Menurut para sejarawan, prestasi Timur Leng jauh lebih unggul dibanding Jengis Khan. Kaisar Mongol yang bengis ini yang tidak pernah menghadapi pasukan yang kuat di daratan Rusia, sementara Timur berhadapan dengan pasukan yang sangat kuat yang dipimpin oleh Kaisar Toktamish. Bahkan ada sejarawan yang menilai, Timur lebih menonjol ketimbang Iskandar Zulkarnain. Sebab, Iskandar hanya berhadapan dengan pasukan-pasukan yang lemah.
Continue reading “Timur Leng, Sang Penakluk yang Sederhana”
Posted in Kisah Mujahid
By admin on January 5, 2010
Sultan Harun Al-Rasyid masygul berat, konon, penyebabnya sudah tujuh bulan Abu Nawas tidak menghadap ke Istana. Akibatnya, suasana Balairung jadi lengang, sunyi senyap. Sejak dilarang datang ke Istana, Abu Nawas memang benar-benar tidak pernah muncul di Istana.
“Mungkin Abu Nawas marah kepadaku,” pikir Sultan, maka diutuslah seorang punggawa ke rumah Abu Nawas.
“Tolong sampaikan kepada Sultan, aku sakit hendak bersalin,” jawab Abu Nawas kepada punggawa yang datang ke rumah Abu Nawas menyampaikan pesan Sultan. “Aku sedang menunggu dukun beranak untuk mengelurkan bayiku ini,” kata Abu Nawas lagi sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.
Continue reading “Abu Nawas, Hamil dan Hendak Melahirkan”
Posted in Kisah Abu Nawas
By admin on December 8, 2009
Abu Hamid Ahmad ibnu Khadhruya al-Balkhi. Adalah seorang warga terhormat Kota Balkh. Istrinya adalah seorang wanita solikhah, putrid dari Gubernur Kota Balkh.
Ahmad kerap dihubungkan dengan Hatim al-Asamm dan Abu Yazid al-Bisthami. Ia meninggal dunia di Nisyabur pada tahun 240 H / 864 M dalam usia 95 tahun.
Ia memiliki seribu orang murid. Setiap muridnya mampu berjalan diatas permukaan air dan terbang di udara. Ahmad mengenakan pakaian serdadu. Fatimah, istrinya, termasuk salah seorang wali sufi. Ia adalah putri dari Pangeran Balkh. Setelah bertobat, ia mengirim utusan untuk menemui Ahmad. “Mintalah aku dari ayahku.”
Continue reading “Ahmad Ibnu Khadruya, Tujuh Puluh Hati dengan Cahaya Iman”
Posted in Jejak Sufi
Komentar Terbaru