Abdurrahman Jami, Penyair Sufi yang Mengetahui Hari Kematiannya

Musim panas, musim dingin, dan musim semi akan berlalu. Kita pasti akan jadi tanah dan debu

Nama lengkapnya Nuruddin Abdurrahman Al-Jami. Dia adalah satu di antara sejumlah orang genius dari negeri Persia. Lahir di Kharjad pada 1414 M (817 H) dan wafat di Heart pada 1492 M (898 H). Sebelum populer dengan sebutan Al-Jami, dia bergelar Ad-Dasyti, karena ayahnya, Nizamuddin, berasal dari Dasyt, dekat Kota Isfahan. Sejak berusia muda, Al-Jami sudah menunjukkan sifatnya yang istimewa. Ia mudah menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya. Ia pandai berbicara dan berargumentasi. Salah satu di antara para ulama yang pernah menjadi guru atau pembimbingnya adalah Syekh Sa’aduddin Al-Kasygari, murid sekaligus Khalifah Syekh Bahaudiin Naqsyabandi. Berkat potensinya yang besar dan ketekunannya belajar dan menulis, ia berkembang menjadi sufi besar dan sekaligus menjadi penyair besar yang berpengetahuan luas. Teruskan membaca “Abdurrahman Jami, Penyair Sufi yang Mengetahui Hari Kematiannya”

Abu Nawas dan Menteri yang Zalim (Bagian Kedua - Habis)

lembu-abunawas-kecil

“Sudahkah kamu menerima pembayaran harga lembumu?” tanya Abu Nawas kepada anak muda pada malam harinya.

“Hamba diperdaya menteri itu,” jawab si pemuda dengan wajah nelangsa. “Lembu hilang, uang melayang.”

“Coba ceritakan kata Abu Nawas. “Aku kira jual beli berjalan lancar sehingga aku cepat-cepat pergi karena ada urusan lain.”

Maka diceritakanlah kejadian itu dengan nada mendongkol. “Sialan menteri itu,” ujar si pemuda. Teruskan membaca “Abu Nawas dan Menteri yang Zalim (Bagian Kedua - Habis)”

Abu Nawas dan Menteri yang Zalim (Bagian Pertama)

lembu-abu-nawas

Di Negeri Baghdad dahulu kala ada seorang menteri yang dikenal sangat jahat perangainya, sehingga ditakuti warganya. Ia tidak bisa melihat perempuan cantik, terutama istri orang, pasti diambilnya. Apabila membeli suatu barang, ia tidak pernah mau membayar. Ihwal itu lama kelamaan sampai juga ke telinga Abu Nawas sehingga membuat hatinya panas. Maka Abu Nawas pun pasang niat tidak akan meninggalkan daerah itu sebelum sang menteri menghembuskan nafas terakhir alias mati. Teruskan membaca “Abu Nawas dan Menteri yang Zalim (Bagian Pertama)”

Abdurrahman Al-Ghafiqi, Terulangnya Duka di Perang Uhud (5 - habis)

Pada hari-hari berikutnya pertempuran berlangsung makin seru. Kaum muslimin menggempur pasukan Perancis dengan ganas dan berani. Perang berlangsung selama tujuh hari dengan dahsyat dan seru. Pada hari kedelapan kaum muslimin melancarkan serangan mendadak sehingga mereka dapat melumpuhkan barisan tengah. Waktu itu, kaum muslimin melihat cahaya kemenangan seperti cahaya subuh yang nampak di kegelapan. Teruskan membaca “Abdurrahman Al-Ghafiqi, Terulangnya Duka di Perang Uhud (5 - habis)”

Abdurrahman Al-Ghafiqi dan Pertempuran Balathu Asy-Syuhada (4)

Jatuhnya kota Bordeaux ke tangan kaum muslimin merupakan batu loncatan bagi kejatuhan kota-kota penting lainnya, antara lain, Lyons, Bourbonnais dan Cannes. Kota terakhir ini terletak sekitar seratus mil dari Kota Paris. Seluruh kota terguncang atas jatuhnya sebagian besar wilayah Prancis bagian selatan ke tangan Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi, hanya dalam waktu beberapa bulan. Al-Ghafiqi bahkan dapat membebaskan beberapa daerah itu hanya dalam satu gebrakan. Teruskan membaca “Abdurrahman Al-Ghafiqi dan Pertempuran Balathu Asy-Syuhada (4)”

Abdurrahman Al-Ghafiqi dan Bala Tentara yang CInta Syahid (3)

Ketika permohonan Abdurrahman Al-Ghafiqi datang kepada Utsman untuk menyerang daerah kekuasaan ayah Minin, ia merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di satu sisi ia harus mengamankan daerah itu, karena terikat perjanjian dengan ayah Minin, tapi di sisi lain ia harus memenuhi permohonan Al-Ghafiqi. Akhirnya, pilihan pertamalah yang diambl oleh Utsman. Ia segera menulis surat balasan kepada Al-Ghafiqi, ia beralasan bahwa ia tidak dapat memenuhi perintah tersebut karena telah terikat perjanjian dengan Raja Aquitane, dan ia tidak bisa merusak perjanjian dengannya sebelum masa perjanjian itu habis. Teruskan membaca “Abdurrahman Al-Ghafiqi dan Bala Tentara yang CInta Syahid (3)”

Abdurrahman Al-Ghafiqi: Kata-kata dan Perbuatan (2)

Setiap kali mengunjungi daerah kekuasaan kaum muslimin, dia selalu mengajak orang-orang untuk shalat berjemaah. Ia juga menganjurkan mereka untuk terus berjihad, dan menyemangati mereka agar selalu mengharapkan ridlo Allah swt dan berbahagia dengan pahalanya. Ucapan Abdurrahman Al-Ghafiqi selalu disertai dengan perbuatan. Jika ia bercita-cita selalu disertai dengan usaha. Maka langkah pertama untuk memperkuat daerah kekuasaannya adalah dengan mengadakan persiapan dan melengkapi persenjataan, memperbaiki kamp tentara yang berdekatan dengan daerah musuh, membangun benteng-benteng, membangun jembatan. Diantara jembatan terbesar yang ia bangun adalah jembatan Qurthubah (dalam literatur Inggris disebut Cordova), ibukota Andalusia (kini Spanyol). Teruskan membaca “Abdurrahman Al-Ghafiqi: Kata-kata dan Perbuatan (2)”

Newsletter SUFIz.com

Masukkan Email Anda

Cek Link Aktivasi di Email Anda Setelah Memasukkan Email. by FeedBurner

Follow us at TWITTER

Arsip Artikel

Juli 2009
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Ming
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Topik Cerita

Situs Partner

Pengunjung SUFIz.com

Translator